Kamis, 12 Desember 2013

Karna

Karna, Nyawanya Sebagai Tumbal Lenyapnya Angkaramurka



 Adipati Karna seorang raja negri Awangga, meskipun raja tetapi raja kecil. Raja yang masih diperintah raja lain (Ratu rehrehan Jawa).

Istrinya Karna itu bernama Dewi Surtikanti, putri Mandaraka, putra Prabu Salyapati. Anak Adipati Karna kalau dalam pewayangan adalah dua orang, lelaki dan perempuan, bernama Warsakusuma dan Dewi Suryawati. Patihnya Karna itu bernama Patih Hadimanggala. Banyak para pejabat atau tokoh masyarakat yang mengagumi tokoh Karna, termasuk guru saya. Ki Narto Sabdo. Bahkan juga Presiden I Bung Karno juga mengagumi tokoh Karna, sebab sejarah serta perjalanan hidup Karna itu agak aneh atau unik.

Karna itu anaknya Dewi Kunti Talibrata dengan Bathara Surya, tetapi tidak dengan jalan melalui hubungan badan (bersetubuh), sebab terkena walat atau kutukan disebabkan membaca mantra limu Aji Kunta Wekasing Rasa Sabda Tunggal Tanpa Lawan. Dewi Kunti itu sejak muda (perawan) sudah senang mempelajari ilmu, termasuk pula Kunti berguru kepada Brahmana yang bernama Reshi Druwasa, can diberi Ilmu “Aji Kunta Wekasing Rasa Sabda Tunggal Tanpa Lawan”, yang memilki daya keampuhan dapat mendatangkan Dewa hanya dengan kekuatan mantra tersebut. Peringatan Guru Druwasa. membaca atau merapal ilmu tersebut tidak boleh dilakukan sambil mandi dan/atau mau tidur.

Tetapi sepertinva Dewi Kunti tidak percaya dengan keampuhan Aji Kunta, karena itu Dewi Kunti mencoba kekuatan mantra Aji Kunta yang ia lakukan saat menjelang matahari terbenam. Dengan demikian Sanghyang Bathara Surya yang seharusnya akan istirahat, karena seharian penuh mengatur jalannya matahari, mendadak tergetar rasa hatinya sepertinya mendapatkan kontak bathin, tetapi Bathara Surya itu adalah Dewa yang ilmu kesaktiannya sangat tinggi, ibaratnya hanya dalam sekejap mata saja sudah sampai di tempat yang dituju, yaitu kamar mandi Dewi Kunti yang saat itu akan mandi. Dewi Kunti begitu mengetahui ada Dewa yang datang di depannya, langsung gugup dan tubuhnya gemetar, dengan cepat tangannya bergerak menyambar pakaiannya yang sudah mulai ia tanggalkan, tetapi yang teraih hanyalah kembennya saja, lalu ia kenakan untuk menutupi sebagian tubuhnya.

Bathara Surya kemu­dian berta­nya kepa da Dewi Kunti, ada maksud apa sampai ia merapal Aji Kunta? Dewi Kunti yang sebe­narnya ha­nya sekadar mencoba, karuan saja menjadi takut dan gugup dalam memberi penjelasan, bahwa apa yang ia lakukan hanyalah sekadar mencoba mantra tersebut

Mendengar pengakuan Dewi Kunti seperti itu, Bathara Surya menjadi marah, sebab mempelajari semua ilmu itu harus percaya dan yakin, tidak boleh hanya untuk main coba-coba. Karena itu Dewi Kunti lalu diberi hukuman, hamil tanpa bersetubuh. Dewi Kunti menangis, memohon pengampunan, tetapi Bathara Surya telah hilang dari pandangan mata.

Beberapa bulan Dewi Kunti tidak berani keluar dari kamar keputrian, yang ia lakukan hanya tidur berselimut rapat untuk menutupi kandungannya yang sudah besar, dan kalau ditanya oleh ayah, ibu dan kakaknya. jawabnya adalah sedang sakit.. Namun sepandai-pandai menyimpan bangke, akhirnya akan tercium juga bahunya. Demikianjuga halnya dengan apa yang terjadi pada Dewi Kunti, kakaknya sendjri Basudewa yang mengetahui pertama kali kalau ia sedang mengandung.

Talk terbayangkan bagaimana kemarahan Raden Basudewa begitu mengetahui dengan penglihatannya sendiri kalau adiknya Dewi Kunti sedang mengandung, padahal belum menikah dengan lelaki siapapun. Niatnya Dewi Kunti akan dihajarnya, namun untunglah Reshi Druwasa guru­nya Dewi Kunti mendadak datang, yang kemudian menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi pada diri Dewi Kunti. Apa yang dijelaskan oleh Resi Druwasa dapat diterima oleh Basudewa.

Untuk menjaga agar aib tersebut tidak tersebar luas, bayi yang ada dalam kandungan Dewi Kunti, lalu dilahirkan dengan kekuatan mantra gaib Resi Druwasa. Bayi lahir melalui lubang telinga Dewi Kunti, karena itu jabang bayi diberi nama Karna.

Bayi Karna kemudian dimasukkan ke dalam kendaga dan dihanyutkan ke sungai Bagi Ratri, selanjutnya bayi yang hanyut di sungai itu ditemukan oleh salah seorang sais kereta Prabu Drestrarasta, yang bernama Adirata, yang kebetulan baru mandi bersama istrinya yang bernama Nyai Nadha, bayi dibawa pulang, dipelihara dan diasuh sampai dewa­sa.

Karna juga punya nama ; Suryaputra, Suryat­maja, Talidarma, Bismantaka, Pritaputra.

Adipati Karna bersatu dengan Prabu Duryudana, sebab Kama berhutang bu­di kepada Prabu Duryudana di Astina, termasuk Surtikanti, istrinya Kama itu sebenamya pacamya (ke­kasihnya) Duryudana, te­tapi direlakan menjadi istri­nya Karna. Intinya, semua kemuliaan yang dimiliki Prabu Karna merupakan pemberian atau anugrah dari Prabu Duryudana. Karena itu walaupun Prabu Karma itu putra Dewi Kunti, dan Pandawa itu saudara satu ibu, akan tetapi Prabu Karna tetap bersatu serta merasa dan mengakui kalau Duryudana yang harus dibela dan dilindungi. Prabu Karna juga mengakui kalau Kunti itu ibu yang melahirkannya, serta Pandawa itu adalah saudaraya. Meski demikian Prabu Karna kukuh dengan sumpahnya membela yang memberi kemuliaan, yaitu Prabu Duryudana.

Disinilah kita dapat mengambil pelajaran, Katresnan atau Kewajiban, tapi kenyataannya Prabu Kama memilih kewajiban. Kenyatannya dalam lakon “Krena Duta”. Kama bertemu dengan Kresna (Sandi Tama Kawedar), Kresna membujuk Karna agar bersatu dengan Pandawa. Karna tidak mau. Dewi Kunti sendiri juga membujuk dan meminta Karna bersatu bersama Pandaiva, Karna juga tidak mau, tetap akan membela Duryudana.

Namun sesungguhnya Karna itu juga sayang terhadap Pandawa, Buktinya? Karna itu memiliki pusaka pembawaan dari lahir yaitu yang berujud anting-anting yang bernama “Pucunggul Maniking Surya”, serta Kawaca (Kere Waja atau Rumpi Baja). Karena kecintaannya terhadap Pandawa, Karna membuang pusaka kadewatan yang dibawanya sejak lahir sambil bekata : Hai, saudaraku para Pandawa. Ini pusaka milikku yang sangat sakti sudah aku lepas, dibuang. Aku tidak butuh kemenangan, Pandawa harus menang. Angkara murka harus lenyap.

sumber:http://caritawayang.blogspot.com/2013/11/karna-nyawanya-sebagai-tumbal-lenyapnya.html

Kisah Rama Sinta


Dikisahkan di sebuah negeri bernama Mantili ada seorang puteri nan cantik jelita bernama Dewi Shinta. Dia seorang puteri raja negeri Mantili yaitu Prabu Janaka. Suatu hari sang Prabu mengadakan sayembara untuk mendapatkan sang Pangeran bagi puteri tercintanya yaitu Shinta, dan akhirnya sayembara itu dimenangkan oleh Putera Mahkota Kerajaan Ayodya, yang bernama Raden Rama Wijaya. Namun dalam kisah ini ada juga seorang raja Alengkadiraja yaitu Prabu Rahwana, yang juga sedang kasmaran, namun bukan kepada Dewi Shinta tetapi dia ingin memperistri Dewi Widowati. Dari penglihatan Rahwana, Shinta dianggap sebagai titisan Dewi Widowati yang selama ini diimpikannya. Dalam sebuah perjalanan Rama dan Shinta dan disertai Lesmana adiknya, sedang melewati hutan belantara yang dinamakan hutan Dandaka, si raksasa Prabu Rahwana mengintai mereka bertiga, khususnya Shinta. Rahwana ingin menculik Shinta untuk dibawa ke istananya dan dijadikan istri, dengan siasatnya Rahwana mengubah seorang hambanya bernama Marica menjadi seekor kijang kencana. Dengan tujuan memancing Rama pergi memburu kijang ‘jadi-jadian' itu, karena Dewi Shinta menginginkannya. Dan memang benar setelah melihat keelokan kijang tersebut, Shinta meminta Rama untuk menangkapnya. Karena permintaan sang istri tercinta maka Rama berusaha mengejar kijang seorang diri sedang Shinta dan Lesmana menunggui. 

Dalam waktu sudah cukup lama ditinggal berburu, Shinta mulai mencemaskan Rama, maka meminta Lesmana untuk mencarinya. Sebelum meninggalkan Shinta seorang diri Lesmana tidak lupa membuat perlindungan guna menjaga keselamatan Shinta yaitu dengan membuat lingkaran magis. Dengan lingkaran ini Shinta tidak boleh mengeluarkan sedikitpun anggota badannya agar tetap terjamin keselamatannya, jadi Shinta hanya boleh bergerak-gerak sebatas lingkaran tersebut. Setelah kepergian Lesmana, Rahwana mulai beraksi untuk menculik, namun usahanya gagal karena ada lingkaran magis tersebut. Rahwana mulai cari siasat lagi, caranya ia menyamar yaitu dengan mengubah diri menjadi seorang brahmana tua dan bertujuan mengambil hati Shinta untuk memberi sedekah. Ternyata siasatnya berhasil membuat Shinta mengulurkan tangannya untuk memberi sedekah, secara tidak sadar Shinta telah melanggar ketentuan lingkaran magis yaitu tidak diijinkan mengeluarkan anggota tubuh sedikitpun! Saat itu juga Rahwana tanpa ingin kehilangan kesempatan ia menangkap tangan dan menarik Shinta keluar dari lingkaran. Selanjutnya oleh Rahwana, Shinta dibawa pulang ke istananya di Alengka. Saat dalam perjalanan pulang itu terjadi pertempuran dengan seekor burung Garuda yang bernama Jatayu yang hendak menolong Dewi Shinta. Jatayu dapat mengenali Shinta sebagai puteri dari Janaka yang merupakan teman baiknya, namun dalam pertempuan itu Jatayu dapat dikalahkan Rahwana.

Disaat yang sama Rama terus memburu kijang kencana dan akhirnya Rama berhasil memanahnya, namun kijang itu berubah kembali menjadi raksasa. Dalam wujud sebenarnya Marica mengadakan perlawanan pada Rama sehingga terjadilah pertempuran antar keduanya, dan pada akhirnya Rama berhasil memanah si raksasa. Pada saat yang bersamaan Lesmana berhasil menemukan Rama dan mereka berdua kembali ke tempat semula dimana Shinta ditinggal sendirian, namun sesampainya Shinta tidak ditemukan. Selanjutnya mereka berdua berusaha mencarinya dan bertemu Jatayu yang luka parah, Rama mencurigai Jatayu yang menculik dan dengan penuh emosi ia hendak membunuhnya tapi berhasil dicegah oleh Lesmana. Dari keterangan Jatayu mereka mengetahui bahwa yang menculik Shinta adalah Rahwana! Setelah menceritakan semuanya akhirnya si burung garuda ini meninggal.

Mereka berdua memutuskan untuk melakukan perjalanan ke istana Rahwana dan ditengah jalan mereka bertemu dengan seekor kera putih bernama Hanuman yang sedang mencari para satria guna mengalahkan Subali. Subali adalah kakak dari Sugriwa paman dari Hanuman, Sang kakak merebut kekasih adiknya yaitu Dewi Tara. Singkat cerita Rama bersedia membantu mengalahkan Subali, dan akhirnya usaha itu berhasil dengan kembalinya Dewi Tara menjadi istri Sugriwa. Pada kesempatan itu pula Rama menceritakan perjalanannya akan dilanjutkan bersama Lesmana untuk mencari Dewi Shinta sang istri yang diculik Rahwana di istana Alengka. Karena merasa berutang budi pada Rama maka Sugriwa menawarkan bantuannya dalam menemukan kembali Shinta, yaitu dimulai dengan mengutus Hanuman persi ke istana Alengka mencari tahu Rahwana menyembunyikan Shinta dan mengetahui kekuatan pasukan Rahwana.

Taman Argasoka adalah taman kerajaan Alengka tempat dimana Shinta menghabiskan hari-hari penantiannya dijemput kembali oleh sang suami. Dalam Argasoka Shinta ditemani oleh Trijata kemenakan Rahwana, selain itu juga berusaha membujuk Shinta untuk bersedia menjadi istri Rahwana. Karena sudah beberapa kali Rahwana meminta dan ‘memaksa' Shinta menjadi istrinya tetapi ditolak, sampai-sampai Rahwana habis kesabarannya yaitu ingin membunuh Shinta namun dapat dicegah oleh Trijata. Di dalam kesedihan Shinta di taman Argasoka ia mendengar sebuah lantunan lagu oleh seekor kera putih yaitu Hanuman yang sedang mengintainya. Setelah kehadirannya diketahui Shinta, segera Hanuman menghadap untuk menyampaikan maksud kehadirannya sebagai utusan Rama. Setelah selesai menyampaikan maskudnya Hanuman segera ingin mengetahui kekuatan kerajaan Alengka. Caranya dengan membuat keonaran yaitu merusak keindahan taman, dan akhirnya Hanuman tertangkap oleh Indrajid putera Rahwana dan kemudian dibawa ke Rahwana. Karena marahnya Hanuman akan dibunuh tetapi dicegah oleh Kumbakarna adiknya, karena dianggap menentang, maka Kumbakarna diusir dari kerjaan Alengka. Tapi akhirnya Hanuman tetap dijatuhi hukuman yaitu dengan dibakar hidup-hidup, tetapi bukannya mati tetapi Hanuman membakar kerajaan Alengka dan berhasil meloloskan diri. Sekembalinya dari Alengka, Hanuman menceritakan semua kejadian dan kondisi Alengka kepada Rama. Setelah adanya laporan itu, maka Rama memutuskan untuk berangkat menyerang kerajaan Alengka dan diikuti pula pasukan kera pimpinan Hanuman.

Setibanya di istana Rahwana terjadi peperangan, dimana awalnya pihak Alengka dipimpin oleh Indrajid. Dalam pertempuran ini Indrajid dapat dikalahkan dengan gugurnya Indrajit. Alengka terdesak oleh bala tentara Rama, maka Kumbakarna raksasa yang bijaksana diminta oleh Rahwana menjadi senopati perang. Kumbakarna menyanggupi tetapi bukannya untuk membela kakaknya yang angkara murka, namun demi untuk membela bangsa dan negara Alengkadiraja.Dalam pertempuran ini pula Kumbakarna dapat dikalahkan dan gugur sebagai pahlawan bangsanya. Dengan gugurnya sang adik, akhirnya Rahwana menghadapi sendiri Rama. Pad akhir pertempuran ini Rahwana juga dapat dikalahkan seluruh pasukan pimpinan Rama. Rahmana mati kena panah pusaka Rama dan dihimpit gunung Sumawana yang dibawa Hanuman.

Setelah semua pertempuran yang dasyat itu dengan kekalahan dipihak Alengka maka Rama dengan bebas dapat memasuki istana dan mencari sang istri tercinta. Dengan diantar oleh Hanuman menuju ke taman Argasoka menemui Shinta, akan tetapi Rama menolak karena menganggap Shinta telah ternoda selama Shinta berada di kerajaan Alengka. Maka Rama meminta bukti kesuciannya, yaitu dengan melakukan bakar diri. Karena kebenaran kesucian Shinta dan pertolongan Dewa Api, Shinta selamat dari api. Dengan demikian terbuktilah bahwa Shinta masih suci dan akhirnya Rama menerima kembali Shinta dengan perasaan haru dan bahagia. Dan akhir dari kisah ini mereka kembali ke istananya masing-masing.  

http://candidiy.tripod.com/ramayana.htm

mahabarata

Mahabarata - Sebuah Bencana Teknologi
Perang dahsyat Mahabarata bukanlah cerita tentang cinta dan kasih sayang. Ia adalah cerita tentang ego kekuasaan dan ego Intelligentsia.
Bahkan kelompok Pandawa juga bukan merupakan pribadi yang bisa diandalkan. Kelahiran Pandawa yang dimetaforkan melalui dimasukkan ke dalam ‘kawah’ Candradimuka adalah sebuah gambaran dari teknologi ‘kloning’, sebuah teknologi maju yang sudah berkembang pada masa 5000 SM.
‘Kloning’ untuk menghasilkan manusia-manusia unggul baik dari kelompok Pandawa maupun Kurawa, tetap menyisihkan sisi-sisi gelap pada pribadi yang ada. Pandawa yang selalu di elu-elukan sebagai orang baik dan ‘tokoh’ pujaan dalam pewayangan, merupakan lima pribadi yang mempunyai banyak kekurangan.
  • · Yudistira sebagai kakak tertua adalah ‘tukang’ judi. Ia sangat gemar berjudi sehingga mau mempertaruhkan apa saja yang ia punyai, walaupun itu istrinya sendiri.
  • · Bima, sebagai orang yang terkenal paling kuat fisiknya adalah orang yang keras kepala, emosi tinggi sehingga temperamen dan gampang marah.
  • · Arjuna adalah orang yang gemar meng-eksplorasi sex, seorang playboy yang mempunyai banyak pasangan.
  • · Nakula dan Sadewa adalah dua orang yang selalu dalam posisi tidak dapat menentukan pilihan, orang yang ambiguitasnya tinggi dan tidak mempunyai pendirian yang teguh.
Dalam masa itu, tiga orang ilmuwan yang sempat direkam namanya adalah Bisma, Druna, dan Sengkuni. Tiga tokoh yang berperan memercikkan perseturuan sehingga terjadi perang dahsyat Mahabarata. Sengkuni yang ahli tatanegara berhasil membangun strategi suksesi yang inkonstitusional, dan mendesain kepentingan ilmu negara dan politiknya untuk menjadikan anak keturunan Kurawa berkuasa penuh atas Hastinapura.
Dari sisi lain, ada tokoh ilmuwan muda yang genius dan cerdas dari Negara Dwaraka, yaitu Krisna. Karena umurnya yang masih muda, maka tokoh-tokoh ilmuwan tua kadang mengesampingkan peran dari Krisna. Dwaraka berkembang menjadi Negara kuat dengan prajurit-prajurit handal. Teknologi yang dipunyai Krisna dan sangat disegani adalah senjata ‘Cakra’, sebuah metafora dari senjata laser pemusnah masal.
Perebutan tanah kekuasaan Hastinapura antara Kurawa dan Pandawa yang melibatkan Negara-negara lainnya, bukanlah sebuah perang kecil yang digambarkan menggunakan kereta kuda, senjata kuno panah dan adu pedang. Bila perang saat itu hanyalah perang kuno konvensional, maka cerita dari perang tersebut bukanlah perang dahsyat yang besar.
Arjuna yang digambarkan berada dalam kereta kuda bersama Krisna, dengan kereta bernama ‘Vimana’ yang meluncurkan panah pasopati dengan sangat cepat dan tak henti-henti, adalah sebuah teknologi pesawat terbang modern dengan persenjataan laser.
Perang Mahabarata adalah perang tekonologi nuklir dahsyat yang meluluhlantakkan dunia pada saat itu sehingga kehancuran yang terjadi menyebabkan peradaban kembali ke masa primitive dan harus mulai dari awal untuk membangunnya. Dari hasil riset dan penelitian yang dilakukan ditepian sungai Gangga di India, para arkeolog menemukan banyak sekali sisa-sisa puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 °C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.
Tahun 1972 silam, ada sebuah penemuan luar biasa yang barangkali bisa semakin memperkuat dugaan bahwa memang benar peradaban masa silam telah mengalami era Nuklir yaitu penemuan tambang Reaktor Nuklir berusia dua miliyar tahun di Oklo, Republik Gabon!
Yang jelas, perang maha dahsyat tersebut telah membumi-hanguskan semua ego kekuasaan dan menghancurkan semua tatanan dunia yang ada. Peradaban kembali dari awal, kehidupan kembali dimulai dari status primitive. Masa Primitive ini berakhir ketika muncul peradaban Sumeria sekitar 4000SM. Peradaban Sumeria inilah yang dikenal dengan peradaban daerah Timur Tengah dengan cerita yang dimulai dari Adam dan Hawa!

Minggu, 08 Desember 2013

lengger

Lamongan, suaramerdeka.com - Loro rakyat seni Kulonprogro kaancam ing jabur lan Lengger tapeng Bintang ing Rakyat Arts Festival (FKR) Bale Joglo 2013 ing langit, Kalitapakduwur Desa, Kabupaten Sentolo, Minggu (19/5).
Sakabèhé, ana 12 grup Bintang rakyat seni saka saben distrik sing dileksanakake ing acara dianakaké Departemen Pariwisata Budaya Pemuda lan Olahraga (Disbudparpora) bebarengan karo budaya Dewan (UNSC) sing Kulonprogro.
Iki acara taunan narik kawigaten ing manungsa waé saka residents, kalebu bocah sing ketoke antusias kanggo nonton. Kepala Budaya Disbudparpora Progo, Mursito Joko ngandika convening FKR badhan Asal-Usul saka implementasine saka Yogyakarta Arts Festival (FKY) sapisan dianakaké nganti tataran kabupaten, wiwit 5-6 taun kepungkur mung kutha Yogyakarta piyambak. Kanggo antisipasi sing seniman lan budaya ungkapan duwe papan, banjur FKY ilang ditransfer ing bentuk Rakyat Art Festival.
"We iya dasar kanggo rakyat seni, rakyat seni wiwit kita padha KALUBÈRAN spesies akeh supaya kita wis sinandhi. Ana 20 jinis rakyat seni ing Progo lan ana meh punah minangka jabur lan Lengger tapeng, "ngandika.
Saliyane seni lan Lengger jabur Kalibawang tapeng saka Samigaluh, liyane rakyat seni sing katon ing antarane panjidur saka Nanggulan, krumpyung saka Kokap, oglek saka Sentolo, wayang topeng saka Girimulyo, lan Inkling saka Temon.
Seni rakyat punika unggul Performing saben distrik. Miturut Joko, kang Pemilu wis liwat diskusi lan kolaborasi studi sing unik lan béda sing ora wilayah liyane.
"Utawa pangembangan banget didhukung dening masyarakat. Sing kang kita angkat dadi wiji seni, tanpa ngowahi mateni seni liyane, "ngandika.
Iki acara FKR, Joko, minangka salah siji tegese kanggo Foster, ngreksa, lan berkembang seni lan budaya. Ora sangsi, sing sajian sing ditamilkan dening seni kelompok wakil saka saben distrik ora sampurna ngelingi pemain ora seniman asli. Lagi petani, pedagang, lan para nelayan sing arep berkespresi karo seni.
Art kang ditampilake kanthi Assessment 12 klompok dening hakim saka Disbudparpora and Cultural Dewan Jogja.Kelompok Kulonprogro sertaseniman sing menang aku-III bakal diwenehi kepelatihan.
Ketua seni kelompok krumpyung tong Wismo saka Hargowilis, Kokap, Sagimin, ngandika ana seneng karo FKR mangkono dadi sarana kanggo grup kanggo nyebut.
"Agung masrahake manungsa waé kanggo wong cilik sing manggon ing kita desa malah saka ndhuwur gunung supaya dileksanakake kene, sanajan kahanan punika amargi perabot saka pring supaya swarané diwatesi," ngandika.

mitos Yogya

Kenangan, peristiwa, mitos, legenda yang menginspirasi, usang namun kenangannya tidak lekang, orisinil, hampir dan bahkan sudah dilupakan, hampir dan bahkan sudah hilang punah karena tidak terdokumentasikan dengan baik, yang menurut saya pantas diberikan predikat LEGENDA JOGJA TAK TERDOKUMENTASI. Dipersembahkan untuk anak-anak Jogja di masa datang, supaya tidak lupa akan hal ini. Ini merupakan opini pribadi saya dan beberapa teman. Silahkan menikmati:
1. Suara drumb-band tengah malam.
Sekitar tahun 80-an akhir, setiap tengah malam, di hari hari tertentu, kita orang jogja pasti mendengar suara drum-band. Kalau yang rumahnya barat, pastilah mengira asal suara itu dari timur, kalau dari selatan pastilah mengira itu asal suara drum-band dari arah utara, begitu pula sebaliknya. Anehnya, suara itu ketika dicari tidak ada satupun yang menemukan. Saya pernah minta kepada bapak untuk nonton itu drumb-band, lantas diantar sama bapak mencari asal suara itu, tapi tetap saja tidak ditemukan. Ini semua orang jogja asli pasti tahu.
2. Legenda Yu Darmi.
Tentang legenda hidup ini, mbak Tiwi nadanusantara pernah membahasnya di sini ., juga ada teman bahas di sini juga. Beliau adalah legenda dunia malam pinggir kota. Dengan payung hitam dan baju hangat semacam sweater berkerah menutup leher, beliau “bekerja” menjadi PSK senior. Rumahnya kalo ndak salah diselatannya stasiun lempuyangan.
Waktu SD ketika saya berangkat setor koran naik sepeda pagi-pagi dari jalan Diponegoro ke stasiun tugu dan lempuyangan, saya sering berpapasan dengan beliau, bahkan beliau sering menyapa sesiapa yang masih terbangun dini itu di sekitar area lempuyangan kadang di utara Kridosono. Tapi apa yang dilakukannya waktu itu saya ndak mudheng.
3. Gauk (sirine-Jawa) pabrik gula Madukismo
Suara gauk yang meraung raung setiap jam 5.45, 6.00, 21.45, dan pukul 22.00. Suara ini akan terdengar setiap musim tebang tebu atau disebut cembengan, yaitu pada bulan April-Oktober.
4. Gauk pitulasan, 1 maret, dan 10 november.
Suara gauk ini berasal dari tower gauk di selatan pasar Gampingan (Serangan) selatan jalan. Dulu disitu ada tower jaman belanda  yang selalu dibunyikan pada tanggal tanggal tersebut. Kalau tanggal 1 maret dan 10 November pasti dibunyikan tepat jam 6 pagi. Kalau pas pitulasan pasti jam 10 pagi. Pada saat gauk pitulasan dibunyikan, ada ritual kusus yang dilakukan para mahasiswa Institut Seni Indonesia, yaitu tiarap. Tapi akhir 80-an, tower yang sudah tidak berfungsi sejak awal 90-an itu sudah dirubuhkan karena dibelakangnya dibangun PLN baru. Sebelum PLN, bangunan pabrik anim yang terkenal angker.
5. Air Mancur
Dulu di tengah perempatan Kantor Pos Besar ujung jalan Malioboro ada air mancurnya. Lalu sekitar pertengahan 80-an air mancur itu dihilangkan seiring meningkatnya volume lalu lintas yang melewati perempatan itu. Lantas, lokasi NOL kilometer itu dinamakan Air Mancur. Kalau ndak percaya tanya aja sama kernet bus kota jalur 9 warna oranye itu.
6. Suminten Edan
Hahaha tokoh kethoprak ini sangat fenomenal sekali. Siapapun pasti pernah nonton ketoprak ini, enta itu nonton dirumah sendiri atau di tetangga. Ketoprak yang sangat menakutkan bagi anak-anak kecil, hahaha, apalagi suara tangis bayinya Suminten. Tokoh yang memerankan Suminten Edan adalah Marsidah, BSc., dari sanggar ketoprak Sapta Mandala pimpinan pak Widayat. Rumah bu Marsidah dari dulu sampai sekarang di selatan pasar Ngringin di Patangpuluhan. Dahulu Sapta Mandala bernama Kridha Mardi, yaitu bidang kesenian dari group kesenian underbow Lekra dari Partai Komunis Indonesia
7. Gito-Gati PS Bayu
Tokoh kembar fenomenal dalam bidang perkethoprakan Jogja dan sekitarnya. Anak-anak kecil bisa membedakan keduanya dari “upa atau nasi yang menempel di pipi” salah satu dari keduanya. Anaknya, Bambang Rabies sampai sekarang masih eksis di dunia kesenian.
8. Kethoprak Sayembara TVRI Jogja
Beberapa judul yang masih saya ingat: Ampak-Ampak Singgelopuro; Kesaput ing Pedhut, Ampak-ampak kaligawe, dll. Terakhir kethoprak sayembara tahun 1994 dengan tokoh Ria Enes yang punya noda “toh” di lengan. Sponsor ketoprak sayembara terakhir adalah majalah Referendum yang terbit dan mati pada tahun-tahun tersebut. Salah satu tokoh yang sangat terkenal adalah Ki Bongol, seorang misterius yang sakti mengenakan caping. Dan ingat ga, kalau yang jadi mbok mban di setiap lakon selalu sama orangya, ibu ibu gemuk pendek, namanya Bu Titik, tapi panjangnya siapa ndak tahu.
9. Mbangun Desa
Cerita semacam opera sabun yang digunakan oleh pemerintah sebagai sarana untuk menyalurkan kebijakan-kebijakan yang bertitik pada pembangunan desa. Dikemas lucu dan dengan gaya jogja yang khas. Tokoh-tokoh dalam opera ini adalah: Den Baguse Ngarso (Drs. Susilo), Pak Bina, Bu Bina (Heru Kesawa Murti), Kang Sronto, Yu Sronto (yang aslinya adalah istri dari pemeran Pak Bina), Den Ayune Ngarso (Yati Pesek) Kuriman, dan terakhir ada Yu Beruk.
10. Obrolan Angkring
Sapa kelingan tokoh tokohe, ayo tulis kene. Nek aku masih ingat lagunya loh.
Warung angkring sebutane
Ra ngintelek ning mesti dho dikangeni
Mahasiswa, tukang becak, seniman lan senewen
kabeh ngumpul dadi siji dho gayenge
Ngobrol mrono, ngobrol mene kaya ahli
Wusanane ngrasani nggone tanggane
Aja-aja, aja keladuk sembrono, iso iso diciduk karo pulisi
Mangga-mangga, mangga lenggah wonten mriki
Lenggah nangkring, sego kucing, karo ngopi
Mangga-mangga, sing ra jajan mesti rugiii
11. Basiyo
Dagelan mataram ala Jogja yang digawangi oleh Alm. Basiyo, Alm. Ki Narto Sabdo. Ngabdul,dll. Dagelan yang bersahaja, lugu, cerdas, antisipatif, tidak sarkasme, dan sangat kental dengan kebudayaan dan cara hidup orang kebanyakan di Jogja.
Dagelan gaya mataraman ini, kaset dan mp3 nya bisa didengarkan di koleksi saya di sini
12. Sujud Sutrisno
Seorang pengamen jalanan jogja yang khas dengan permainan kendang tunggal di selempangkan menyamping di perutnya.  Mulai mengamen dengan kendang tunggal ini sejak ibuku belum lahir,,yaitu sebelum tahun 62, dan sampai sekarang mbah sujud masih mengamen dengan cara yang unik ini. Satu frase dalam lagunya yang terkenal adalah
“Tum, dundang mbokmu…..”
Rekaman lagunya bisa di dengarkan di koleksi musik saya di sini
13. Puk puk puk, ji walang kaji puk puk beruk dem dem
Masih ingat ga, tahun sekitar 80an pertengahan, ada opera Lebaran yang dibintangi oleh Didik Nini Thowok, Daryadi, Marwoto Kawer, dan Bu Titik (yang biasa jadi mbok mban di ketoprak). Dalam opera itu, Dhidik Nini Thowok dan Marwoto Kawer merapal mantra yang lucu dan masih saya ingat sampai sekarang.
Pok pok pok dem dem dem, ji walangkaji pok pok beruk dem dem dem;
….ora ngalor ora ngidul nunul menuk Dul….
hahaha
14. Ciri-ciri orang Bantul: pipi kanan hitam
Hahaha ini pomeo entah siapa yang memulai, yang jelas sejak saya masih TK, sekitar tahun 87an, saya sudah mendengar tentang hal ini.
Jadi begini, dahulu, orang orang Bantul banyak sekali yang bekerja ke Kota Jogja. Ribuan orang bersepeda bersama memenuhi jalan jalan arteri utama Bantul-Jogja, seperti jalan Bantul, jalan Parangtritis, dan jalan Imogiri, baik pada pagi hari ketika datang maupun sore hari ketika pulang, berjajar 2-3 sepeda di sebelah kiri. Ketika berangkat kerja, mereka berbondong-bondong bersepeda menuju Kota yang berada disebelah utara, menuju arah utara, sehingga matahari pagi di timur lebih banyak menyinari sisi muka sebelah kanan. Begitu pula sebaliknya, ketika pulang, muka mereka sebelah kanan kembali terkena matahari sore di ufuk barat. Begitulah pomeo ini berlaku hahahaha.
15. Legenda LAMPOR
Ketika saya kecil, saya pernah diceritakan sama bapak kalau di malam-malam tertentu, orang orang disepanjang lembah Kali Code mendengar bunyi gemerincing dan derap kaki kuda. Dan ketika mereka mendengar itu, lantas serta merta mereka akan menutup pintu dan jendela. Ya, mereka bilang ada LAMPOR datang. Lampor adalah tentara dari kerajaan Ratu Pantai Selatan. Mereka datang dengan kereta kuda mengantarkan Ratu yang hendak berkunjung dengan kereta kencananya menuju Gunung Merapi melewati sungai Code. Tapi jaman dulu memang mereka benar-benar mendengarkan suara gemerincing itu. Jika suara itu datang, pendudu lantas menutup pintu lantaran takut dibawa serta ke Laut Kidul. Tapi suara itu terdengar benar-benar!!! Legenda tentang Lampor ini pernah dituliskan dalam sebuah cerpen oleh seorang tukang becak, tapi ketika tulisannya mendapat juara dalam sebuah kompetisi, dia menolak untuk menulis lagi.
16. JOXZIN JXZ
Joxin, atau ada yang menyebutnya dengan kepanjangannya Pojox Pom Bensin, adalah grup gank tertua dan terkenal di Jogja. Bermula ketika anak anak seputaran malioboro dll, membuat kumpulan gank yang suka nongkrong di Perempatan Sultan Agung (timur Shoping) di depan POM Bensin Senopati yang sekarang sudah dijadikan taman parkir.
Versi lain mengatakan bahwa JOXZIN ini adalah akronim dari Joko Sinting. Selalu berkendara motor RX King. JOXZIN menginpirasi lahirnya gank lain seperti QZR, Qizruh yang jika melakukan tawuran selalu mengendarai motor Jet Colet dengan ciri khas sticker putih di  slebor depan. Kemudian muncul gank lain seperti: CNX Conyax, Ardath Aku Rela Ditidurin Asal Tidak Hamil, CAJ Cina Anti Jawa, TRB Trah Budeg, dan yang agak baru ada GMX Gemax yang bermarkas di Kauman.
17. Bioskop-bioskop Legenda kota Jogja
Berikut nama-nama bioskop yang dulu sempat ngetop di kota Jogja.
President dan Senopati (Satu lokasi di Shoping Centre, sekarang Taman Pintar)
Soboharsono, Widya (Seputaran timur alun alun utara)
Indra, Permata, Arjuna, Empire, Reagent, Ratih, dll
Siapa yang tahu? tulis di komentar aja, nanti tak unggahkan
18. Muktamar Muhammadiyah ke-42
Muktamar ini diselenggarakan di kota Jogja pada bulan Desember tahun 1990. Ini menjadi fenomenal karena bersamaan dengan acara Visit Asean Year.
19. Kirab tinggalan dalem Sri Sultan HB IX dan kirab jumenengan Sri Sultan HB X
Setahun setelah meninggalnya Sultan HB IX bulan Oktober 88, tepatnya tanggal 7 Maret 89, diadakan Kirab Ageng Jumenengan Dalem Pangeran Mangkubumi menjadi HB X
20. Mencari kliping di Shoping
Hahaha dulu kalau ada tugas membuat kliping pasti tujuannya ke shoping. Shoping menjadi ramai sekali pada saat tahun ajaran baru. Shoping yang letaknya di sebelah timur Munumen Satu Maret, depan Bank Indonesia, menjadi tempat tujuan bagi ibu ibu membeli buku murah untuk anak-anaknya.
21. SMA 17-1
Hahaha orang dulu menyebutnya SMA Pitulassiji. SMA swasta yang mirip SMA Negri (karena ada angka 17nya) yang sangat fenomenal karena reputasinya dibidang BERANTEM. Terletak di Pingit, Ujung Selatan Jalan Magelang. Sejak beberapa tahun lalu lembaga yang menaungi SMA ini sudah bubar.
22. Jagading Lelembutnya Djoko Lodhang
Rubrik di Majalah Bahasa Jawa ini menjadi rubrik paling favorit, setelah rubrik Dhat Nyeng dibagian sampul belakang dan rubrik Pengalamanku. Berisi tentang cerita kisah nyata dari para pembaca mengenai kejadian metafisika dan hantu yang mereka alami. Rubrik ini dikemas seperti rubrik Cerkak dan Cerbung
23. Pak Abas CH
Semasa saya kecil, Pak Abas CH selalu mengisi sebuah acara di Radio Retjo Buntung bernama Pembacaan Buku. Acara ini berisi opera radio yang dinarasi oleh beliau. Diputar setiap hari Minggu jam 14.30. Diiringi gesekan rebab dan alunan melodi gender membuat acara ini semakin syahdu.
24. Hari Untarto
Mahasiswa abadi Biologi UGM ini adalah icon atensi dan pecinta radio, terutama UNISI. Hari, sehari harinya menghabiskan waktu untuk melakukan atensi, live phone ke radio radio di Jogja, biasanya mengirim lagu untuk Dian PTN, anak biologi angkatan 2000.
25. Jamu Gandring Hahahaha ini tidak ada ditempat lain kecuali di Jogja, dan itupun hanya seorang. Jamu Gandring ini makanan, serupa permen, berasa jahe yang dibentuk bulat bulat kecil berwarna coklat. Simbah almarhum yang menjual jamu gandring ini biasanya meneriakkan “Ndriiinggg,,,Jamu Jamu Gandring” dengan tone rendah sambil membawa pikulan dibahunya. Ciri Khas lain adalah pikulannya ada semacam wayang orang di kedua sisi, tapi bukan tokoh wayang, hanya ciptaan si simbah penjual jamu gandring.
Dahulu, para ibu jika menemukan kesulitan “ndulang” anaknya dan/atau anaknya suka minta jajan, maka ibu itu akan bilang “nek jajanan terus ora gelem maem tak undangke mbah jamu gandring, ben digawa lebokne mbagor”
26. Es Goreng Pak Gathot Terkenal di Sekolah-sekolah dasar seantero Jogja. Menjual es yang digoreng (dicelupkan) ke dalam kuah coklat, kemudian si pembeli mengambil lotere berupa kertas kosong yang jika dicelupkan ke dalam air,  maka dalam kertas ini muncul tulisan. Biasanya menyertakan Horn dalam setiap aksinya.
27. Samijaya, Progo dan Toko Ramai Tempat belanja dan kongkow paling legendaris di Jogja.
28. Bah Gemuk Satu-satunya klinik dan toko obat China yang sejak saya masih bayi sudah melayani pengobatan di ujung selatan perempatan wirobrajan. Tabibnya namanya Bah Gemuk. Pengobatan untuk rakyat. Sekarang toko obat bah Gemuk sudah ditutup karena sudah dua kali pasien bah Gemuk meninggal dunia karena salah obat. He
29. Kerkop (KerkHof) Tempat nyekoki balita dan anak anak kecil yang susah makan atau sakit dengan jamu jamuan tradisional jogja. Bocah biasanya dicangar supaya membuka mulutnya, kemudian simbah yang nyekoki jamu, memeras jamu yang sudah dibungkus dengan kain putih tepat di atas mulut bocah yang terbuka. Dulu ada pomoe yang biasa dikatakan ibu ibu kalau bayinya susah makan
“Nek emoh maem mengko tak cekokke ning kerkop loh”, lantas bayinya mau makan. Terletak di depan THR, THR dulu adalah kuburan yang dalam bahasa belanda adalah KerkHof.
30. Trinil, endi gembungkuuuuuPada medio 80-an, ada sebuah sandiwara radio berbahasa jawa yang diputar di Retjo Buntung dan RRI berjudul Trinil. Tokoh utama dalam sandiwara ini juga bernama Trinil, seorang gadis yang kemudian dibunuh dengan cara dimutilasi, kepala dan tubuhnya dipisahkan oleh pacarnya setelah pacarnya mengetahui bahwa trinil ini hamil. Lantas potongan tubuhnya dibuang di jurang oleh dia dan beberapa temannya. Kemudian, hantu trinil berupa kepala ini menghantui orang orang yang terlibat dalam pembunuhannya. Dan setiap dia menghantui, dia selalu bilang “Endi gembungkuuuu (mana tubuhku-Jawa)”
Versi lain menyebutkan, bahwa hantu yang mencari gembung itu adalah hantunya ibu tirinya Trinil yang mencari potongan tubuhnya. Setelah Trinil membunuh dan memutilasi ibu tirinya, lantas, gembungnya disembunyikan dibawah tempat tidur.
31. Kuncung dan Bawuk
Opera tivi untuk anak anak yang ditokohi oleh Kuncung dan Bawuk*sambil njembeng lambe*. Setelah itu acara ini ditiadakan sejak jaman saya masih bayi. Jadi saya cuma dengar ke Legenda an nya dari bapak. Hahaha. Yang saya ingat, kemudian muncul majalah Kuncung dan Bawuk.
32. Ra enak, tur larang, sing dodol ngentutan
Plesetan kata dari nyanyian yang diputar oleh penjual es keliling merk terkenal kala itu.
33. Montor Duyung
Semasa saya kecil, pernah ada isu tentang mobil box, atau truk, yang suka menculik anak anak dengan cara dimasukkan ke karung, orang-orang menyebutnya, Montor Duyung (mobil Duyung-Jawa). Kadang ibu ibu suka memasukkan ini ketika sedang menyuruh anaknya supaya pulang sekolah langsung pulang kerumah, tidak main jauh jauh dari rumah.
“..Le, aja dolan adoh adoh, mengko ndhak diculik karo Montor Duyung, dilebokne bagor,,,”
34. Sang Legenda: Mbi’ing, Cemul, dan Suprat
Mbi’ing adalah ibu ibu tua tidak waras dengan busana jarikan, kemana mana membawa payung dan nylempangkan jariknya nggembol sesuatu diperutnya. Mbi’ng almarhum rumahnya di daerah Kadipiro, tapi daerah jelajahnya dari Malioboro, ketimur sampai pernah saya temukan dia di daerah Condong Catur. Umpatan khas dari Mbi’ing adalah
“,,,malinggg,,,malinggg,,,
maling kijing,,,pateni wae!!” sambil mengacungkan payungnya dan mengkaitkan ke leher orang yang dianggapnya telah mengganggunya.
Cemul adalah orang tidak waras yang berbadan gendut. Tidak banyak bicara tapi suka dimintai nomor oleh orang orang. Wilayah jelajahnya dari rumahnya di Ketanggungan, sampai daerah Magelang, karena saya pernah melihat dia.
Suprat adalah orang tidak waras yang selalu bugil, hanya menutupi tubuh bagian depannya dengan bagor usang. Almarhum suka membawa batu, dan memunguti batu batuan yang ditemukan dijalan. Jika marah suka melempar orang. Suprat juga suka ditanya nomor butut oleh orang orang. Wilayah jelajahnya dari rumahnya di Sonosewu sampai ke Klaten. Saya pernah melihat dia sampai di Klaten.
35. Ida Gedhang
Saya mungkin sudah agak lupa tentang kejadian ini, baik tahun ataupun detailnya, karena mungkin saya masih kecil sekali. Yaitu ketika ada berita dari mulut ke mulut tentang seorang wanita bernama Ida yang masuk rumah sakit karena pisang yang dia gunakan untuk melakukan “swalayan” patah ditempat. Ada yang tahu detailnya? silahkan tulis disini.
36. Dolanan Bocah
Gotri legendri, Salah satu dari permainan anak anak Jawa yang sudah punah. Anak anak bermain melingkar, jongkok ditanah. Mereka saling menggilirkan batu ke sebelahnya sambil menyanyikan lagu.
Gotri legendri nogosari
thiwul uwal awul jadah mbantul
dolan awan awan nggolek kodok
titenana besok gedhe dadi apaa
padha mbako enak mbako sedhep
dhempo ewa ewo kaya kodok
Kemudian, yang mendapatkan batu terakhir dia jadi kodok
Permainan anak anak yang lain seperti
Bethet Thing Thong
Bethet thing thong legendar gong
gonge ilang
cam cao gula batu kedhawung ilang
Boy-boynan
Pemain berusaha melemparkan tumpukan pecahan genting, atau kreweng dengan bola kasti atau tenis. Satu orang berusaha mencegahnya.
Udan barat
Permainan menggunakan gacuk, bisa dari pecahan tegel atau kereweng. Dimainkan dengan melemparkan batu ke garis, yang paling dekat dengan garis dia yang mulai main. Gacuk dipasang di kaki, kemudian orang berjalan jingkat jingkat dengan gacuk terpasang disatu kaki. Yang kalah menggendong yang menang, dari garis ke garis.
Benthik
Mungkin sudah banyak dibahas di blog yang lain. Permainan menggunakan dua batang kayu besar dan kecil. Pemain berusaha mencungkil kayu kecil (dengan kayu agak panjang) dari sebuah lubang. Jika pemain lawan tidak bisa menangkapnya, maka lanjut ke level selanjutnya, yaitu Patil Lele.
Tawonan
Permainan berkelompok. Dimainkan dengan membuat lingkaran besar di tanah tempat memenjarakan pemain lawan yang tertangkap.
Jek-jekan
Dimainkan berkelompok. Masing masing pemain berusaha menyentuh tiang milik lawan. Pemain yang baru saja menyentuh tiang sendiri, jika dia menyentuh lawan, maka lawan akan dipenjara ditiang milik dia. Istilahnya, tuwo tuwonan.
Ingkling atau engklek
Ada ingkling gunung, ikling montor mabur, ingkling kates, dll
Jamuran
Dimainkan berkelompok beramai ramai bergandengan tangan melingari seorang di tengah, sambil menyanyikan lagu dibawah rembulan penuh.
Jamuran, yo ge gethok, jamur apa, yo ge gethok, semprat semprit jamur apa?
lalu pemain yang ditengah menyebutkan sesuatu, seperti:
Jamur parut, maka pemain yang melingkar harus mengangkat kakinya untuk dikili kitik dengan kereweng, jika tertawa maka dia jadi yang ditengah
Jamur kendhil borot, semua pemain harus kencing wakakakakkaakakaka marahi kemekelen
dan jamur jamur lainnya
Ancak-ancak alis
Permainan yang juga dimainkan beramai ramai. Dua orang anak menggabungkan kedua tangan mereka dan diangkat tinggi. Anak-anak yang lain membuat rangkaian satu persatu memasuki melewati kedua anak tadi, sambil menyanyikan lagu
Ancak-ancak alis, si alis kabotan kidang
anak-anak kebondungkul si dhungkul…bla bla bla lupa, ada yang ingat?
Cublak-cubkal suweng
Satu orang diminta melakukan posisi seperti orang bersujud, ndhekem. Kemudian empat atau lima anak lainnya bermain menggilirkan sebuah kerikil ditangan mereka. Setelah selesai, anak yang ndhekem tadi menebak kerikil di tangan siapa.
Cublak cublak suweng, suwenge ting gelenter,
mambu ketundhung gudel
pak gemppng lela legung sapa ngguyu ndhelikake
sirpong dhele kosong sir, sirpong dhele kosong
Sepak Sekong
Permainan yang menggunakan bola, biasanya bola plastik. Satu anak menangkap bola yang disepak oleh satu dari mereka. Setelah bola disepak, anak anak yang lain lalu sembunyi. Pemain yang menangkap bola, lalu mencari mereka dan menjaga supaya bolanya tidak disepak oleh pemain lainnya. Jika bola berhasil disepak lainnya, maka harus diulang lagi dan sibocah penunggu bola harus menunggu bola lagi.
Kempyeng atau cring-crong
Permainan anak-anak putri menggunakan uang receh sebanyak lima buah atau berjumlah ganjil. Uang dibolak balik di telapak tangan luar dan dalam. Uang disebar, setelah disebar, uang ditembakkan satu sama lain atas permintaan lawan. Kenapa harus ganjil? satu koin digunakan sebagai penghalang.
Subyung, bekelan, dll
Dhingklik oglak aglik
Permainan anak anak, dimainkan dengan saling mengaitkan salah satu kaki ke kaki teman dalam sebuah lingkaran kecil dengan kaki lain bertumpu di tanah dan melakukan gerakan berjalan seperti berjingkat bersama. Masing-masing tangan pemain memegang pundak atau tangan pemain lainnya.
link tentang permainan anak anak Jawa ada ditempatnya mbak Hida di sini
37. Nas Ping
Frase ini diucapkan jika kita sedang reserve mengenai sesuatu (ngecim). Nilai hukumnya lebih kuat dari sekedar ngecim saja. Biasanya diucapkan lengkap seperti ini
“Nas ping, nas kali pating sapa ndemok dosa…..” didahului dengan menggigit ujung jari dan mengolesi dengan ludah sebelum melakukan gerakan menyilang imaginer pada sesuatu yang akan di cim
38. Kuyuhan dibawah Kretek Kewek
Jembatan atau Kretek Kewek, berasal dari kata Kerk=Gereja dan Wek=Weg=Jalan. Merupakan serapan dari kata bahasa Belanda. Dahulu kretek kewek ini adalah cikal bakal prostitusi terkenal di Jogja, Sarkem, Pasar Kembang, karena tepat di sebelah atas jembatan selain digunakan untuk mangkal para PSK, juga untuk jualan kembang segar sebelum akhirnya prostitusi ini dipindah ke daerah Sosrowijayan.
Orang jogja, pasti sekali dua kali pernah merasakan kecipratan uyuh ketika melintas di bawah jembatan ini yang notabene adalah jalan atau rel kereta. Kuyuhan dibawah Kretek Kewek ini menjadi fenomena unik di Jojga. Ra ngandel??? takon aku ki sing wis kuyuhan makaping kaping.
39. Wiwitan
Bagi yang tinggal di Jogja pedesaan pasti pernah mengalami ini. Wiwitan adalah pembagian berkat berupa nasi dan lauk pauk, biasanya gudangan sayur diberi teri dan peyek serta buah, mirip dengan bancakan. Dilakukan untuk me-wiwit-i atau memulai panen padi. Begitu terdengar suara “wiwittt,,,wiwitttt,,,,” bertalu talu dari mulut ke mulut, anak-anak lantas lari ke sawah untuk meminta sepincuk nasi berkat sambil membawa daun pisang sebagai alas makan.
40. Senisono
Gedung disebelah ujung timur selatan kompleks gedung kepresidenan Jogja adalah gedung yang sangat melegenda. Gedung ini dahulu sebelum “dipugar” digunakan untuk kegiatan berkesenian, termasuk pameran. Pada medio 80-an, gedung ini pernah digunakan untuk pameran OSHIN. Di situ dipamerkan barang-barang, pernak-pernik syuting film OSHIN.
41. Legenda Manuk Bence dan Culi
Manuk atau burung Bence, kedatangannya yang ditandai dengan suara ocehannya pada tengah malam, dijadikan tanda akan adanya bahaya, kematian, bencana, dll. Sedangkan manuk atau burung Culi, dijadikan tanda bahwa ada jenazah yang tali kain kafannya belum dilepas, sehingga minta diculi, di-uculi (dilepas-Jawa).
42. Mitos dilarang nuding kuburan
Dahulu semasa saya kecil, jika kita tidak atau dengan sengaja menudingkan jari kita ke arah kuburan, maka kita harus menggigit ujung jari (nggeget-nggeget) yang digunakan untuk menuding, jika bisa sampai berdarah, lantas ujung jari tersebut disentuhkan ke tanah dan bilang amit-amit ora ndulit. Tanah yang menempel di ujung jari, baru boleh dibersihkan setelah sampai kerumah. Kalau tidak dibegitukan namanya nuding setan, jarinya bisa punther.
43. Bu abu abu abu abuuuuu, abune moasss
Frase ini diucapkan oleh seorang simbah tua yang sudah almarhum sejak saya kecil. Kalau tidak salah namanya mbah Krama. Menawarkan abu gosok yang digendongnya dipunggung dari Ambar binangun, tempat dia mengambil dan membungkusi abu bekas pembakaran tobong batu bata sampai ke pasar Gede. Harga satu plastik abu gosok berukuran 1 Kg seharga 25,-. Beliau selalu memanggil langganannya dengan sebutan Mas, either itu laki atau perempuan, karena mas di sini artinya nakmas, anak mas.
44. Loh, tapi kuda kan binatang.
Fragmen iklan layanan masyarakat di radio paling terkenal. Muncul pada awal tahun 80-an dan bertahan hingga akhir 80-an. Percakapan yang mengambil setting di atas andhong tersebut biasa disiarkan oleh RRI, Arma Sebelas, dan Retjo Buntung. Dialog dalam fragmen tersebut kurang lebih sbb:
Wanita1: Pak, tolong antarkan kami ke kota ya, Pak
[derap langkah kuda]
Kusir : Tapi, di kota nanti, tidak boleh membuang sampah sembarangan di jalan ya, Den.
Wanita2: Loh, Pak, itu tadi kudanya membuang kotoran di jalan?
[ringkikan kuda]
Wanita1: [bergumam] hmmm, betul juga ya,,,,[kaget] loh, tapi kuda kan binatang,,,,,
[ditutup dengan suara derap dan ringkikan kuda]
45. Ndemok silit kopeten
adalah lelagon dolanan anak anak yang agak vulgar. biasanya dilagukan untuk saling mengejek
Ndemok silitttt kopeten ayo ten
tendangono ayo no, nogosari ayo ri, rina wengi ayo ngi, ngidul ngetan ayo tan, taun baru ayo ru, rujak degan ayo gan, gandul keyong ayo yong, yongo ngemis ayo mis, mesam mesem ayo sem, semar mendem ayo ndem,,,,,,ndemok siliiiiittt kopeten dst dst
46. Mbah Atin
Mbah Atin adalah seorang ibu tua yang agak waras. Berbusana jarik-kebaya dan mengempit tas berwarna hitam, mbah Atin selalu saja tahu dan selalu ada jika ada sripah atau lelayu atau orang meninggal. Hingga, mbah Atin selalu dikait-kaitkan membawa kematian pada setiap daerah yang didatanginya.
47. Rumor tentang adanya hantu biyung tulung di njeron beteng

Dahulu, pernah sekali terjadi rumor tentang hantu biyung tulung di seputaran kadipaten ke arah ngasem (masih area njeron beteng). Hantu biyung tulung ini selalu tidak pernah menampakkan wujud, hanya suara yang mengaduh memanggil ibunya minta tolong “aduh biyung, tulung”
48. Siti Rohani
Ada anak baru
Masuk sekolah
pakai kacamata
Rambutnya ekor kuda
Siapa namanya Siti rohani
Mana rumahnya
jalan Banyuwangi
49. Kulak kolang kaling kalih kilo
Ada gojegan masa kecil saya yang lucu semacam unen-unen yang menggunakan kata-kata dengan awalan suku kata yang sehuruf, contohnya:
Kala kula kelas kalih, kula kulak kolang kaling kalih kilo
Kolangkalingipun kula kumbah kali kilen kula, kalonipun keli, kula kejar, kathok kula kecanthol kawat ketok kempole kowar kawer hahahahaha (bukan kempol, tapi ko**ol)
Saksuwene sesasi, susine susi susut sesisih (bukan susi, tapi sikut wekekekeke…milih kesikut apa kesusu hayooo?)
Silit sapi singsot siat siut suarane sae sanget
50. Acara Favorit di Radio-Radio
kuis menebak benda YASIKA FM
Dahulu sekitar medio 80-an, ada kuis radio Yasika FM yang paling digemari kawula muda Jogja, yaitu kuis menebak sebuah benda, tapi saya lupa namanya, wong kala itu masih kecil sekali. Setiap penelepon diberi kesempatan sekali bertanya tentang clue dan sekali menjawab, atau kedua kesempatan digunakan untuk bertanya tentang clue nya.
Bintang Kecil di Arma Sebelas
Radio Arma Sebelas adalah satu dari radio yang melegenda di kota Jogja. Radio ini terletak di sebelah barat perempatan air mancur, atau perempatan kantor pos besar selatan jalan. Radio yang dahulu terkenal dengan iklan layanan masyarakat “Loh, tapi kuda kan binatang” ini mempunyai acara siaran lagu-lagu untuk anak-anak, namanya Bintang Kecil. Lagu backsound acara ini adalah Lagu Sei Forte Papa dari Gianni Morandi yang saya posting di thread music saya di multiply ini.
Radio yang sebaiknya anda tahu tong teng teng
Adalah jingle radio GCD FM Pathuk Gunung Kidul yang bertahan dari medio 80an sampai sekarang. Satu acara yang juga bertahan sampai sekarang adalah Fals Mania setiap jam 12.30 kalau saya tidak salah.
Yogyakarta Top Hits
Truly legend nek iki. Cah yoja nek ra reti iki bangeten!!! wakakakak berarti ra tau keganggu saben dina Jumat bar Jumatan tekan setengah telu.
51. Kantore bapak gedhe
Ucapkan frase kalimat di atas, kantore bapak gedhe sambil menarik bibir ke araha samping atau dalam bahasa Jawa dijembeng (sapa nek wani ngomong ukara iki ning karo lambene dijembeng wekekeke)
52. Pameran Oshin di Senisono 1986
Masih ingat dimana letak gedung Senisono?
Gedung kesenian warisan belanda ini dahulu terletak di sisi pojok paling kanan depan Gedung Agung. Sebelum akhirnya gedung ini dipugar dan dihentikan fungsinya sebagai gedung kesenaian, pameran, dll pada tahun saya masih SMP, sekitar 95an. Saya dahulu SMP 2, jadi tiap hari ya liat gedung ini kalau pulang sekolah. Sedihnya kala itu gedung ini dihilangkan bentuk aslinya. Berita dan foto selengkapnya ada di tembi.org
Nah, dahulu ada serial di TVRi Oshin (Ayako Kobayashi, Yuko Tanaka,  Nobuto Otawa) yang diputar ketika saya masih kecil sekali, sekitar tahun 1986-1987an. Lalu di pertengahan tahun 1986an itu ada pameran Oshin di gedung Senisono almarhum. Yang ditampilkan di situ adalah diorama rumah oshin, baju Oshin, dll
53. Lumut kijing
Dahulu masa kecil, kalau saya batuk, ibu lantas pergi ke kuburan mencari kijing yang sudah berlumut. Lumut kijing yang sudah dikerok dicampurkan ke dalam air hangat atau panas, lalu diminumkan ke saya. It did not work!!
54. Nyuthik tengu di penis dengan contong daun pisang
Jika kena tengu, maka bapak lantas mengmbil daun pisang dan dibuat contong, lalu digunakan untuk mencutik tengunya. Rasanya gatal gatal clekit clekit.

serat joko lodang

SERAT JOKO LODANG
Gambuh
1. Jaka Lodang gumandhul
Praptaning ngethengkrang sru muwus
Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi
Gunung mendhak jurang mbrenjul
Ingusir praja prang kasor
Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon
kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras.
Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan
bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah
sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan
(akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir
dari negerinya.
2.Nanging awya kliru
Sumurupa kanda kang tinamtu
Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti
Maksih katon tabetipun
Beda lawan jurang gesong
Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini.
Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung
akan tetap masih terlihat bekasnya.
Lain sekali dengan jurang yang curam.
3. Nadyan bisa mbarenjul
Tanpa tawing enggal jugrugipun
Kalakone karsaning Hyang wus pinasti
Yen ngidak sangkalanipun
Sirna tata estining wong
Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung,
namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor.
(Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi.
Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik
tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan).
Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan
akan terjadi pada tahun Jawa 1850.
(Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1).
Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920.
Sinom
1. Sasedyane tanpa dadya
Sacipta-cipta tan polih
Kang reraton-raton rantas
Mrih luhur asor pinanggih
Bebendu gung nekani
Kongas ing kanistanipun
Wong agung nis gungira
Sudireng wirang jrih lalis
Ingkang cilik tan tolih ring cilikira
Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud,
apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan,
segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah,
karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan.
Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela.
Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada
mati,
sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.
2. Wong alim-alim pulasan
Njaba putih njero kuning
Ngulama mangsah maksiat
Madat madon minum main
Kaji-kaji ambataning
Dulban kethu putih mamprung
Wadon nir wadorina
Prabaweng salaka rukmi
Kabeh-kabeh mung marono tingalira
Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka.
Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak.
Banyak ulama berbuat maksiat.
Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi.
Para haji melemparkan ikat kepala hajinya.
Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda.
Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.
3. Para sudagar ingargya
Jroning jaman keneng sarik
Marmane saisiningrat
Sangsarane saya mencit
Nir sad estining urip
Iku ta sengkalanipun
Pantoging nandang sudra
Yen wus tobat tanpa mosik
Sru nalangsa narima ngandel ing suksma
Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut.
Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin
menjadi-jadi.
Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1).
Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930.
Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan
diri
kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam.
Megatruh
1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu
Jaka Lodang nabda malih
Nanging ana marmanipun
Ing waca kang wus pinesthi
Estinen murih kelakon
Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih.
Kemudian Joko Lodang berkata lagi :
“Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab,
didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya
segera dan dapat terjadi “.
2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun
Neng sajroning madya akir
Wiku Sapta ngesthi Ratu
Adil parimarmeng dasih
Ing kono kersaning Manon
Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman.
Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1).
Bertepatan dengan tahun Masehi 1945.
Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.
3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk
Malenuk samargi-margi
Marmane bungah kang nemu
Marga jroning kethuk isi
Kencana sesotya abyor
Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong
kecil)
yang berada banyak dijalan.
Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut
isinya tidak lain emas dan kencana.
SERAT SABDO JATI
Megatruh
1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu
MarGAne suka basuki
Dimen luWAR kang kinayun
Kalising panggawe SIsip
Ingkang TAberi prihatos
Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala
cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar
prihatin.
2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon
Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,
agar mudah menanggapi sesuatu.
3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatining isi
Isine cipta sayektos
Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini
kosong
namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.
4. Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon
Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.
5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon
Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan
kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan
itikad hati yang baik,
seolah-olah mabuk kepayang.
6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu
Hayuning tyas sipat kuping
Kinepung panggawe rusuh
Lali pasihaning Gusti
Ginuntingan dening Hyang Manon
Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan
yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,
sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.
7. Parandene kabeh kang samya andulu
Ulap kalilipen wedhi
Akeh ingkang padha sujut
Kinira yen Jabaranil
Kautus dening Hyang Manon
Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,
tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga
yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.
8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh
Kewuhan sajroning ati
Yen tiniru ora urus
Uripe kaesi-esi
Yen niruwa dadi asor
Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan
tercela akhirnya menjadi sengsara.
9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung
Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu
Kabegjane anekani
Kamurahane Hyang Manon
Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan
langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.
10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun
Yen temen-temen sayekti
Dewa aparing pitulung
Nora kurang sandhang bukti
Saciptanira kelakon
Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan
setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi
segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.
11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur
Saka pengunahing Widi
Ambuka warananipun
Aling-aling kang ngalingi
Angilang satemah katon
Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung
yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.
12. Para jalma sajroning jaman pakewuh
Sudranira andadi
Rahurune saya ndarung
Keh tyas mirong murang margi
Kasekten wus nora katon
Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.
13. Katuwane winawas dahat matrenyuh
Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt
Kongas welase kepati
Sulaking jaman prihatos
Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan
tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.
14. Waluyane benjang lamun ana wiku
Memuji ngesthi sawiji
Sabuk tebu lir majenum
Galibedan tudang tuding
Anacahken sakehing wong
Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi
1945).
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,
hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.
15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu
Kala Suba kang gumanti
Wong cilik bisa gumuyu
Nora kurang sandhang bukti
Sedyane kabeh kelakon
Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan
makan
seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.
16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput
Mulur lir benang tinarik
Nanging kaseranging ngumur
Andungkap kasidan jati
Mulih mring jatining enggon
Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai,
bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.
17.Amung kurang wolung ari kang kadulu
Tamating pati patitis
Wus katon neng lokil makpul
Angumpul ing madya ari
Amerengi Sri Budha Pon
Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya,
kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.
18. Tanggal kaping lima antarane luhur
Selaning tahun Jimakir
Taluhu marjayeng janggur
Sengara winduning pati
Netepi ngumpul sak enggon
Tanggal 5 bulan Sela
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.
19. Cinitra ri budha kaping wolulikur
Sawal ing tahun Jimakir
Candraning warsa pinetung
Sembah mekswa pejangga ji
Ki Pujangga pamit layoti
Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802.
(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi
1873).
SERAT KALATIDA
Sinom
1. Mangkya darajating praja
Kawuryan wus sunyaturi
Rurah pangrehing ukara
Karana tanpa palupi
Atilar silastuti
Sujana sarjana kelu
Kalulun kala tida
Tidhem tandhaning dumadi
Ardayengrat dene karoban rubeda
Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot.
Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat
diikuti lagi.
Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama.
Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh
keragu-raguan).
Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.
2. Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Paranedene tan dadi
Paliyasing Kala Bendu
Mandar mangkin andadra
Rubeda angrebedi
Beda-beda ardaning wong saknegara
Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik,
Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka
masyarakat baik,
namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan.
Oleh karena daya jaman Kala Bendu.
Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi.
Lain orang lain pikiran dan maksudnya.
3.Katetangi tangisira
Sira sang paramengkawi
Kawileting tyas duhkita
Katamen ing ren wirangi
Dening upaya sandi
Sumaruna angrawung
Mangimur manuhara
Met pamrih melik pakolih
Temah suka ing karsa tanpa wiweka
Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh kesedihan,
mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang.
Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur
sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada.
4.Dasar karoban pawarta
Bebaratun ujar lamis
Pinudya dadya pangarsa
Wekasan malah kawuri
Yan pinikir sayekti
Mundhak apa aneng ngayun
Andhedher kaluputan
Siniraman banyu lali
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka
Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu.
Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar,
bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali.
Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin ?
Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja.
Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah
kerepotan.
5. Ujaring panitisastra
Awewarah asung peling
Ing jaman keneng musibat
Wong ambeg jatmika kontit
Mengkono yen niteni
Pedah apa amituhu
Pawarta lolawara
Mundhuk angreranta ati
Angurbaya angiket cariteng kuna
Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah ada peringatan.
Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi
tidak terpakai.
Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya meyakini kabar angin
akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya
kisah jaman dahulu kala.
6. Keni kinarta darsana
Panglimbang ala lan becik
Sayekti akeh kewala
Lelakon kang dadi tamsil
Masalahing ngaurip
Wahaninira tinemu
Temahan anarima
Mupus pepesthening takdir
Puluh-Puluh anglakoni kaelokan
Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala,
guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul.
Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam kisah-kisah lama,
mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya “nrima”
dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan.
Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh.
7. Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada
Hidup didalam jaman edan, memang repot.
Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya
jaman
tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan.
Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang
lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa
ingat dan waspada.
8. Semono iku bebasan
Padu-padune kepengin
Enggih mekoten man Doblang
Bener ingkang angarani
Nanging sajroning batin
Sejatine nyamut-nyamut
Wis tuwa arep apa
Muhung mahas ing asepi
Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma
Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan ?
Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian.
Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua,
apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari
Tuhan.
9.Beda lan kang wus santosa
Kinarilah ing Hyang Widhi
Satiba malanganeya
Tan susah ngupaya kasil
Saking mangunah prapti
Pangeran paring pitulung
Marga samaning titah
Rupa sabarang pakolih
Parandene maksih taberi ikhtiyar
Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan.
Bagaimanapun nasibnya selalu baik.
Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah.
Namun demikian masih juga berikhtiar.
10. Sakadare linakonan
Mung tumindak mara ati
Angger tan dadi prakara
Karana riwayat muni
Ikhtiyar iku yekti
Pamilihing reh rahayu
Sinambi budidaya
Kanthi awas lawan eling
Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma
Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan
persoalan.
Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib
ikhtiar,
hanya harus memilih jalan yang baik.
Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan
waspada agar mendapat rakhmat Tuhan.
11. Ya Allah ya Rasulullah
Kang sipat murah lan asih
Mugi-mugi aparinga
Pitulung ingkang martani
Ing alam awal akhir
Dumununging gesang ulun
Mangkya sampun awredha
Ing wekasan kadi pundi
Mula mugi wontena pitulung Tuwan
Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih,
mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang
akhir ini.
Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana.
Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami.
12. Sageda sabar santosa
Mati sajroning ngaurip
Kalis ing reh aruraha
Murka angkara sumingkir
Tarlen meleng malat sih
Sanityaseng tyas mematuh
Badharing sapudhendha
Antuk mayar sawetawis
BoRONG angGA saWARga meSI marTAya
Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa,
seolah-olah dapat mati didalam hidup.
Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan.
Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan
sekedarnya.
Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami.
SABDA TAMA
Gambuh
1. Rasaning tyas kayungyun
Angayomi lukitaning kalbu
Gambir wanakalawan hening ing ati
Kabekta kudu pitutur
Sumingkiring reh tyas mirong
Tumbuhlah suatu keinginan melahirkan perasaan dengan hati yang hening
disebabkan ingin memberikan petuah-petuah agar dapat menyingkirkan hal-hal
yang salah.
2. Den samya amituhu
Ing sajroning Jaman Kala Bendu
Yogya samyanyenyuda hardaning ati
Kang anuntun mring pakewuh
Uwohing panggawe awon
Diharap semuanya maklum bahwa dijaman Kala Bendu
sebaiknya mengurangi nafsu pribadi yang akan membenturkan kepada
kerepotan.
Hasilnya hanyalah perbuatan yang buruk.
3.Ngajapa tyas rahayu
Nyayomana sasameng tumuwuh
Wahanane ngendhakke angkara klindhih
Ngendhangken pakarti dudu
Dinulu luwar tibeng doh
Sebaiknya senantiasa berbuat menuju kepada hal-hal yang baik.
Dapat memberi perlindungan kepada siapapun juga.
Perbuatan demikian akan melenyapkan angkara murka,
melenyapkan perbuatan yang bukan-bukan dan terbuang jauh.
4. Beda kang ngaji mumpung
Nir waspada rubedane tutut
Kakinthilan manggon anggung atut wuri
Tyas riwut ruwet dahuru
Korup sinerung agoroh
Hal ini memang lain dengan yang ngaji pumpung.
Hilang kewaspadaannya dan kerepotanlah yang selalu dijumpai,
selalu mengikuti hidupnya. Hati senantiasa ruwet karena selalu berdusta.
5. Ilang budayanipun
Tanpa bayu weyane ngalumpuk
Sakciptane wardaya ambebayani
Ubayane nora payu
Kari ketaman pakewoh
Lenyap kebudayaannya. Tidak memiliki kekuatan dan ceroboh.
Apa yang dipikir hanyalah hal-hal yang berbahaya.
Sumpah dan janji hanyalah dibibir belaka tidak seorangpun mempercayainya.
Akhirnya hanyalah kerepotan saja.
6. Rong asta wus katekuk
Kari ura-ura kang pakantuk
Dandanggula lagu palaran sayekti
Ngleluri para leluhur
Abot ing sih swami karo
Sudah tidak berdaya. Hanya tinggallah berdendang.
Mendendangkan lagu dandang gula palaran hasil karya nenek moyang dahulu
kala,
betapa beratnya hidup ini seperti orang dimadu saja.
7. Galak gangsuling tembung
Ki Pujangga panggupitanipun
Rangu-rangu pamanguning reh harjanti
Tinanggap prana tumambuh
Katenta nawung prihatos
Ki Pujangga didalam membuat karyanya mungkin ada kelebihan dan
kekurangannya.
Olah karena itu ada perasaan ragu-ragu dan khawatir,
barangkali terdapat kesalahan/kekeliruan tafsir, sebab sedang prihatin.
8. Wartine para jamhur
Pamawasing warsita datan wus
Wahanane apan owah angowahi
Yeku sansaya pakewuh
Ewuh aya kang linakon
Menurut pendapat para ahli, wawasan mereka keadaan selalu berubah-ubah.
Meningkatkan kerepotan apa pula yang hendak dijalankan.
9. Sidining Kala Bendu
Saya ndadra hardaning tyas limut
Nora kena sinirep limpating budi
Lamun durung mangsanipun
Malah sumuke angradon
Azabnya jaman Kala Bendu, makin menjadi-jadi nafsu angkara murka.
Tidak mungkin dikalahkan oleh budi yang baik.
Bila belum sampai saatnya akibatnya bahkan makin luar biasa.
10. Ing antara sapangu
Pangungaking kahanan wus mirud
Morat-marit panguripaning sesami
Sirna katentremanipun
Wong udrasa sak anggon-anggon
Sementara itu keadaan sudah semakin tidak karu-karuwan,
penghidupan semakin morat-marit, tidak ketenteraman lagi, kesedihan
disana-sini.
11. Kemang isarat lebur
Bubar tanpa daya kabarubuh
Paribasan tidhem tandhaning dumadi
Begjane ula dahulu
Cangkem silite angaplok
Segala dosa dan cara hancur lebur, seolah-olah hati dikuasai ketakutan.
Yang beruntung adalah ular berkepala dua, sebab kepala serta buntutnya
dapat makan.
12. Ndhungkari gunung-gunung
Kang geneng-geneng padha jinugrug
Parandene tan ana kang nanggulangi
Wedi kalamun sinembur
Upase lir wedang umob
Gunung-gunung digempur, yang besar-besar dihancurkan
meskipun demikian tidak ada yang berani melawan.
Sebab mereka takut kalau disembur (disemprot ular) berbisa.
Bisa racun ular itu bagaikan air panas.
13. Kalonganing kaluwung
Prabanira kuning abang biru
Sumurupa iku mung soroting warih
Wewarahe para Rasul
Dudu jatining Hyang Manon
Tetapi harap diketahui bahwa lengkungan pelangi yang
berwarna kuning merah dan biru sebenarnya hanyalah cahaya pantulan air.
Menurut ajaran Nabi itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya.
14. Supaya pada emut
Amawasa benjang jroning tahun
Windu kuning kono ana wewe putih
Gegamane tebu wulung
Arsa angrebaseng wedhon
Agar diingat-ingat. Kelak bila sudah menginjak tahun windu kuning
(Kencana) akan ada wewe putih (setan putih), yang bersenjatakan tebu hitam
akan menghancurkan wedhon (pocongan setan).
(Sebuah ramalan yang perlu dipecahkan).
15. Rasa wes karasuk
Kesuk lawan kala mangsanipun
Kawises kawasanira Hyang Widhi
Cahyaning wahyu tumelung
Tulus tan kena tinegor
Agaknya sudah sampai waktunya, karena kekuasaan Tuhan telah datang jaman
kebaikan, tidak mungkin dihindari lagi.
16, Karkating tyas katuju
Jibar-jibur adus banyu wayu
Yuwanane turun-temurun tan enting
Liyan praja samyu sayuk
Keringan saenggon-enggon
Kehendak hati pada waktu tersebut hanya didasarkan kepada ketentraman
sampai ke anak cucu. Negara-negara lain rukun sentosa dan dihormati
dimanapun.
17. Tatune kabeh tuntun
Lelarane waluya sadarum
Tyas prihatin ginantun suka mrepeki
Wong ngantuk anemu kethuk
Isine dinar sabokor
Segala luka-luka (penderitaan) sudah hilang.
Perasaan prihatin berobah menjadi gembira ria.
Orang yang sedang mengantuk menemukan kethuk (gong kecil)
yang berisi emas kencana sebesar bokor.
18. Amung padha tinumpuk
Nora ana rusuh colong jupuk
Raja kaya cinancangan angeng nyawi
Tan ana nganggo tinunggu
Parandene tan cinolong
Semua itu hanya ditumpuk saja, tidak ada yang berbuat curang maupun yang
mengambil. Hewan piraan diikat diluar tanpa ditunggu namun tidak ada yang
dicuri.
19. Diraning durta katut
Anglakoni ing panggawe runtut
Tyase katrem kayoman hayuning budi
Budyarja marjayeng limut
Amawas pangesthi awon
Yang tadinya berbuat angkara sekarang ikut pula berbuat yang baik-baik.
Perasaannya terbawa oleh kebaikan budi. Yang baik dapat menghancurkan yang
jelek.
20. Ninggal pakarti dudu
Pradapaning parentah ginugu
Mring pakaryan saregep tetep nastiti
Ngisor dhuwur tyase jumbuh
Tan ana wahon winahon
Banyak yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang kurang baik. Mengikuti
peraturan-peraturan pemerintah. Semuanya rajin mengerjakan tugasnya
masing-masing. Yang dibawah maupun yang diatas hatinya sama saja. Tidak
ada yang saling mencela.
21.Ngratani sapraja agung
Keh sarjana sujana ing kewuh
Nora kewran mring caraka agal alit
Pulih duk jaman runuhun
Tyase teteg teguh tanggon
Keadaan seperti itu terjadi diseluruh negeri. Banyak sekali orang-orang
ahli dalam bidang surat menyurat. Kembali seperti dijaman dahulu kala.
Semuanya berhati baja.
RAMALAN JOYOBOYO
Badan Penerbit Kwa Giok Djing, Kudus,
Sapta Pujangga dan Sejarah Indonesia, hal. 55-68
Rawa dadi pada dadi bera
Iblis jalma manungsa
Iblis menjelis
manungsa sara
Wong salah bungah-bungah
Wong bener thenger-thenger.
Miturut ramalan saka Prabu Noto Aji Joyoboyo, yen wiwit Tanah Jawa diisi
manungsa kaping pindone sahingga besuk tekane Kiamat Kubra (gantining
Jaman), arep ngalami 2100 Taun Surya utawa 2163 taun candra, kang kabagi
dadi telung periode jaman gedhe utawa diwastani TRIKALI.
Periode Jaman gedhe mau siji-sijine kabagi meneh dadi Pitung Jaman Cilik
utawa kang kasebut SAPTA MALOKO.
Trikali kabagi dadi telu yaiku :
1. Kalisura (Jaman Alam Kaluhuran) suwene 700 Taun Surya.
2. Kalijaga (Jaman Panguripan) suwene 700 Taun Surya.
3. Kalisengoro (Jaman Ngalam Tirta) suwene 700 Taun Surya
.Ing kene sing arep dibahas namung Kalisengoro, sawijineng Trikali kang
pungkasan.
Kalisengoro kabagi dadi Sapta Maloko, yaiku :
1. Kalajangga (Jaman Kembang Gadung)
2. Kalasekti (Jaman Kuasa)
3. Kalajaya (Jaman Hunggul)
4. Kalabendu (Jaman sengsara lan Angkaramurka)
5. Kalisuba (Jaman Kamulyan)
6. Kalisumbaga (Jaman Kasohor)
7. Kalisurata (Jaman Alus)