Minggu, 08 Desember 2013

serat joko lodang

SERAT JOKO LODANG
Gambuh
1. Jaka Lodang gumandhul
Praptaning ngethengkrang sru muwus
Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi
Gunung mendhak jurang mbrenjul
Ingusir praja prang kasor
Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon
kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras.
Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan
bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah
sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan
(akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir
dari negerinya.
2.Nanging awya kliru
Sumurupa kanda kang tinamtu
Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti
Maksih katon tabetipun
Beda lawan jurang gesong
Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini.
Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung
akan tetap masih terlihat bekasnya.
Lain sekali dengan jurang yang curam.
3. Nadyan bisa mbarenjul
Tanpa tawing enggal jugrugipun
Kalakone karsaning Hyang wus pinasti
Yen ngidak sangkalanipun
Sirna tata estining wong
Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung,
namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor.
(Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi.
Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik
tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan).
Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan
akan terjadi pada tahun Jawa 1850.
(Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1).
Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920.
Sinom
1. Sasedyane tanpa dadya
Sacipta-cipta tan polih
Kang reraton-raton rantas
Mrih luhur asor pinanggih
Bebendu gung nekani
Kongas ing kanistanipun
Wong agung nis gungira
Sudireng wirang jrih lalis
Ingkang cilik tan tolih ring cilikira
Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud,
apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan,
segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah,
karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan.
Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela.
Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada
mati,
sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.
2. Wong alim-alim pulasan
Njaba putih njero kuning
Ngulama mangsah maksiat
Madat madon minum main
Kaji-kaji ambataning
Dulban kethu putih mamprung
Wadon nir wadorina
Prabaweng salaka rukmi
Kabeh-kabeh mung marono tingalira
Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka.
Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak.
Banyak ulama berbuat maksiat.
Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi.
Para haji melemparkan ikat kepala hajinya.
Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda.
Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.
3. Para sudagar ingargya
Jroning jaman keneng sarik
Marmane saisiningrat
Sangsarane saya mencit
Nir sad estining urip
Iku ta sengkalanipun
Pantoging nandang sudra
Yen wus tobat tanpa mosik
Sru nalangsa narima ngandel ing suksma
Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut.
Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin
menjadi-jadi.
Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1).
Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930.
Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan
diri
kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam.
Megatruh
1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu
Jaka Lodang nabda malih
Nanging ana marmanipun
Ing waca kang wus pinesthi
Estinen murih kelakon
Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih.
Kemudian Joko Lodang berkata lagi :
“Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab,
didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya
segera dan dapat terjadi “.
2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun
Neng sajroning madya akir
Wiku Sapta ngesthi Ratu
Adil parimarmeng dasih
Ing kono kersaning Manon
Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman.
Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1).
Bertepatan dengan tahun Masehi 1945.
Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.
3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk
Malenuk samargi-margi
Marmane bungah kang nemu
Marga jroning kethuk isi
Kencana sesotya abyor
Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong
kecil)
yang berada banyak dijalan.
Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut
isinya tidak lain emas dan kencana.
SERAT SABDO JATI
Megatruh
1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu
MarGAne suka basuki
Dimen luWAR kang kinayun
Kalising panggawe SIsip
Ingkang TAberi prihatos
Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala
cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar
prihatin.
2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon
Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,
agar mudah menanggapi sesuatu.
3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatining isi
Isine cipta sayektos
Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini
kosong
namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.
4. Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon
Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.
5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon
Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan
kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan
itikad hati yang baik,
seolah-olah mabuk kepayang.
6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu
Hayuning tyas sipat kuping
Kinepung panggawe rusuh
Lali pasihaning Gusti
Ginuntingan dening Hyang Manon
Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan
yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,
sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.
7. Parandene kabeh kang samya andulu
Ulap kalilipen wedhi
Akeh ingkang padha sujut
Kinira yen Jabaranil
Kautus dening Hyang Manon
Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,
tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga
yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.
8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh
Kewuhan sajroning ati
Yen tiniru ora urus
Uripe kaesi-esi
Yen niruwa dadi asor
Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan
tercela akhirnya menjadi sengsara.
9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung
Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu
Kabegjane anekani
Kamurahane Hyang Manon
Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan
langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.
10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun
Yen temen-temen sayekti
Dewa aparing pitulung
Nora kurang sandhang bukti
Saciptanira kelakon
Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan
setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi
segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.
11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur
Saka pengunahing Widi
Ambuka warananipun
Aling-aling kang ngalingi
Angilang satemah katon
Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung
yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.
12. Para jalma sajroning jaman pakewuh
Sudranira andadi
Rahurune saya ndarung
Keh tyas mirong murang margi
Kasekten wus nora katon
Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.
13. Katuwane winawas dahat matrenyuh
Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt
Kongas welase kepati
Sulaking jaman prihatos
Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan
tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.
14. Waluyane benjang lamun ana wiku
Memuji ngesthi sawiji
Sabuk tebu lir majenum
Galibedan tudang tuding
Anacahken sakehing wong
Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi
1945).
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,
hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.
15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu
Kala Suba kang gumanti
Wong cilik bisa gumuyu
Nora kurang sandhang bukti
Sedyane kabeh kelakon
Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan
makan
seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.
16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput
Mulur lir benang tinarik
Nanging kaseranging ngumur
Andungkap kasidan jati
Mulih mring jatining enggon
Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai,
bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.
17.Amung kurang wolung ari kang kadulu
Tamating pati patitis
Wus katon neng lokil makpul
Angumpul ing madya ari
Amerengi Sri Budha Pon
Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya,
kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.
18. Tanggal kaping lima antarane luhur
Selaning tahun Jimakir
Taluhu marjayeng janggur
Sengara winduning pati
Netepi ngumpul sak enggon
Tanggal 5 bulan Sela
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.
19. Cinitra ri budha kaping wolulikur
Sawal ing tahun Jimakir
Candraning warsa pinetung
Sembah mekswa pejangga ji
Ki Pujangga pamit layoti
Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802.
(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi
1873).
SERAT KALATIDA
Sinom
1. Mangkya darajating praja
Kawuryan wus sunyaturi
Rurah pangrehing ukara
Karana tanpa palupi
Atilar silastuti
Sujana sarjana kelu
Kalulun kala tida
Tidhem tandhaning dumadi
Ardayengrat dene karoban rubeda
Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot.
Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat
diikuti lagi.
Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama.
Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh
keragu-raguan).
Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.
2. Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Paranedene tan dadi
Paliyasing Kala Bendu
Mandar mangkin andadra
Rubeda angrebedi
Beda-beda ardaning wong saknegara
Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik,
Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka
masyarakat baik,
namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan.
Oleh karena daya jaman Kala Bendu.
Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi.
Lain orang lain pikiran dan maksudnya.
3.Katetangi tangisira
Sira sang paramengkawi
Kawileting tyas duhkita
Katamen ing ren wirangi
Dening upaya sandi
Sumaruna angrawung
Mangimur manuhara
Met pamrih melik pakolih
Temah suka ing karsa tanpa wiweka
Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh kesedihan,
mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang.
Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur
sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada.
4.Dasar karoban pawarta
Bebaratun ujar lamis
Pinudya dadya pangarsa
Wekasan malah kawuri
Yan pinikir sayekti
Mundhak apa aneng ngayun
Andhedher kaluputan
Siniraman banyu lali
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka
Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu.
Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar,
bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali.
Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin ?
Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja.
Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah
kerepotan.
5. Ujaring panitisastra
Awewarah asung peling
Ing jaman keneng musibat
Wong ambeg jatmika kontit
Mengkono yen niteni
Pedah apa amituhu
Pawarta lolawara
Mundhuk angreranta ati
Angurbaya angiket cariteng kuna
Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah ada peringatan.
Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi
tidak terpakai.
Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya meyakini kabar angin
akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya
kisah jaman dahulu kala.
6. Keni kinarta darsana
Panglimbang ala lan becik
Sayekti akeh kewala
Lelakon kang dadi tamsil
Masalahing ngaurip
Wahaninira tinemu
Temahan anarima
Mupus pepesthening takdir
Puluh-Puluh anglakoni kaelokan
Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala,
guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul.
Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam kisah-kisah lama,
mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya “nrima”
dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan.
Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh.
7. Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada
Hidup didalam jaman edan, memang repot.
Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya
jaman
tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan.
Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang
lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa
ingat dan waspada.
8. Semono iku bebasan
Padu-padune kepengin
Enggih mekoten man Doblang
Bener ingkang angarani
Nanging sajroning batin
Sejatine nyamut-nyamut
Wis tuwa arep apa
Muhung mahas ing asepi
Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma
Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan ?
Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian.
Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua,
apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari
Tuhan.
9.Beda lan kang wus santosa
Kinarilah ing Hyang Widhi
Satiba malanganeya
Tan susah ngupaya kasil
Saking mangunah prapti
Pangeran paring pitulung
Marga samaning titah
Rupa sabarang pakolih
Parandene maksih taberi ikhtiyar
Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan.
Bagaimanapun nasibnya selalu baik.
Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah.
Namun demikian masih juga berikhtiar.
10. Sakadare linakonan
Mung tumindak mara ati
Angger tan dadi prakara
Karana riwayat muni
Ikhtiyar iku yekti
Pamilihing reh rahayu
Sinambi budidaya
Kanthi awas lawan eling
Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma
Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan
persoalan.
Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib
ikhtiar,
hanya harus memilih jalan yang baik.
Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan
waspada agar mendapat rakhmat Tuhan.
11. Ya Allah ya Rasulullah
Kang sipat murah lan asih
Mugi-mugi aparinga
Pitulung ingkang martani
Ing alam awal akhir
Dumununging gesang ulun
Mangkya sampun awredha
Ing wekasan kadi pundi
Mula mugi wontena pitulung Tuwan
Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih,
mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang
akhir ini.
Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana.
Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami.
12. Sageda sabar santosa
Mati sajroning ngaurip
Kalis ing reh aruraha
Murka angkara sumingkir
Tarlen meleng malat sih
Sanityaseng tyas mematuh
Badharing sapudhendha
Antuk mayar sawetawis
BoRONG angGA saWARga meSI marTAya
Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa,
seolah-olah dapat mati didalam hidup.
Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan.
Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan
sekedarnya.
Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami.
SABDA TAMA
Gambuh
1. Rasaning tyas kayungyun
Angayomi lukitaning kalbu
Gambir wanakalawan hening ing ati
Kabekta kudu pitutur
Sumingkiring reh tyas mirong
Tumbuhlah suatu keinginan melahirkan perasaan dengan hati yang hening
disebabkan ingin memberikan petuah-petuah agar dapat menyingkirkan hal-hal
yang salah.
2. Den samya amituhu
Ing sajroning Jaman Kala Bendu
Yogya samyanyenyuda hardaning ati
Kang anuntun mring pakewuh
Uwohing panggawe awon
Diharap semuanya maklum bahwa dijaman Kala Bendu
sebaiknya mengurangi nafsu pribadi yang akan membenturkan kepada
kerepotan.
Hasilnya hanyalah perbuatan yang buruk.
3.Ngajapa tyas rahayu
Nyayomana sasameng tumuwuh
Wahanane ngendhakke angkara klindhih
Ngendhangken pakarti dudu
Dinulu luwar tibeng doh
Sebaiknya senantiasa berbuat menuju kepada hal-hal yang baik.
Dapat memberi perlindungan kepada siapapun juga.
Perbuatan demikian akan melenyapkan angkara murka,
melenyapkan perbuatan yang bukan-bukan dan terbuang jauh.
4. Beda kang ngaji mumpung
Nir waspada rubedane tutut
Kakinthilan manggon anggung atut wuri
Tyas riwut ruwet dahuru
Korup sinerung agoroh
Hal ini memang lain dengan yang ngaji pumpung.
Hilang kewaspadaannya dan kerepotanlah yang selalu dijumpai,
selalu mengikuti hidupnya. Hati senantiasa ruwet karena selalu berdusta.
5. Ilang budayanipun
Tanpa bayu weyane ngalumpuk
Sakciptane wardaya ambebayani
Ubayane nora payu
Kari ketaman pakewoh
Lenyap kebudayaannya. Tidak memiliki kekuatan dan ceroboh.
Apa yang dipikir hanyalah hal-hal yang berbahaya.
Sumpah dan janji hanyalah dibibir belaka tidak seorangpun mempercayainya.
Akhirnya hanyalah kerepotan saja.
6. Rong asta wus katekuk
Kari ura-ura kang pakantuk
Dandanggula lagu palaran sayekti
Ngleluri para leluhur
Abot ing sih swami karo
Sudah tidak berdaya. Hanya tinggallah berdendang.
Mendendangkan lagu dandang gula palaran hasil karya nenek moyang dahulu
kala,
betapa beratnya hidup ini seperti orang dimadu saja.
7. Galak gangsuling tembung
Ki Pujangga panggupitanipun
Rangu-rangu pamanguning reh harjanti
Tinanggap prana tumambuh
Katenta nawung prihatos
Ki Pujangga didalam membuat karyanya mungkin ada kelebihan dan
kekurangannya.
Olah karena itu ada perasaan ragu-ragu dan khawatir,
barangkali terdapat kesalahan/kekeliruan tafsir, sebab sedang prihatin.
8. Wartine para jamhur
Pamawasing warsita datan wus
Wahanane apan owah angowahi
Yeku sansaya pakewuh
Ewuh aya kang linakon
Menurut pendapat para ahli, wawasan mereka keadaan selalu berubah-ubah.
Meningkatkan kerepotan apa pula yang hendak dijalankan.
9. Sidining Kala Bendu
Saya ndadra hardaning tyas limut
Nora kena sinirep limpating budi
Lamun durung mangsanipun
Malah sumuke angradon
Azabnya jaman Kala Bendu, makin menjadi-jadi nafsu angkara murka.
Tidak mungkin dikalahkan oleh budi yang baik.
Bila belum sampai saatnya akibatnya bahkan makin luar biasa.
10. Ing antara sapangu
Pangungaking kahanan wus mirud
Morat-marit panguripaning sesami
Sirna katentremanipun
Wong udrasa sak anggon-anggon
Sementara itu keadaan sudah semakin tidak karu-karuwan,
penghidupan semakin morat-marit, tidak ketenteraman lagi, kesedihan
disana-sini.
11. Kemang isarat lebur
Bubar tanpa daya kabarubuh
Paribasan tidhem tandhaning dumadi
Begjane ula dahulu
Cangkem silite angaplok
Segala dosa dan cara hancur lebur, seolah-olah hati dikuasai ketakutan.
Yang beruntung adalah ular berkepala dua, sebab kepala serta buntutnya
dapat makan.
12. Ndhungkari gunung-gunung
Kang geneng-geneng padha jinugrug
Parandene tan ana kang nanggulangi
Wedi kalamun sinembur
Upase lir wedang umob
Gunung-gunung digempur, yang besar-besar dihancurkan
meskipun demikian tidak ada yang berani melawan.
Sebab mereka takut kalau disembur (disemprot ular) berbisa.
Bisa racun ular itu bagaikan air panas.
13. Kalonganing kaluwung
Prabanira kuning abang biru
Sumurupa iku mung soroting warih
Wewarahe para Rasul
Dudu jatining Hyang Manon
Tetapi harap diketahui bahwa lengkungan pelangi yang
berwarna kuning merah dan biru sebenarnya hanyalah cahaya pantulan air.
Menurut ajaran Nabi itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya.
14. Supaya pada emut
Amawasa benjang jroning tahun
Windu kuning kono ana wewe putih
Gegamane tebu wulung
Arsa angrebaseng wedhon
Agar diingat-ingat. Kelak bila sudah menginjak tahun windu kuning
(Kencana) akan ada wewe putih (setan putih), yang bersenjatakan tebu hitam
akan menghancurkan wedhon (pocongan setan).
(Sebuah ramalan yang perlu dipecahkan).
15. Rasa wes karasuk
Kesuk lawan kala mangsanipun
Kawises kawasanira Hyang Widhi
Cahyaning wahyu tumelung
Tulus tan kena tinegor
Agaknya sudah sampai waktunya, karena kekuasaan Tuhan telah datang jaman
kebaikan, tidak mungkin dihindari lagi.
16, Karkating tyas katuju
Jibar-jibur adus banyu wayu
Yuwanane turun-temurun tan enting
Liyan praja samyu sayuk
Keringan saenggon-enggon
Kehendak hati pada waktu tersebut hanya didasarkan kepada ketentraman
sampai ke anak cucu. Negara-negara lain rukun sentosa dan dihormati
dimanapun.
17. Tatune kabeh tuntun
Lelarane waluya sadarum
Tyas prihatin ginantun suka mrepeki
Wong ngantuk anemu kethuk
Isine dinar sabokor
Segala luka-luka (penderitaan) sudah hilang.
Perasaan prihatin berobah menjadi gembira ria.
Orang yang sedang mengantuk menemukan kethuk (gong kecil)
yang berisi emas kencana sebesar bokor.
18. Amung padha tinumpuk
Nora ana rusuh colong jupuk
Raja kaya cinancangan angeng nyawi
Tan ana nganggo tinunggu
Parandene tan cinolong
Semua itu hanya ditumpuk saja, tidak ada yang berbuat curang maupun yang
mengambil. Hewan piraan diikat diluar tanpa ditunggu namun tidak ada yang
dicuri.
19. Diraning durta katut
Anglakoni ing panggawe runtut
Tyase katrem kayoman hayuning budi
Budyarja marjayeng limut
Amawas pangesthi awon
Yang tadinya berbuat angkara sekarang ikut pula berbuat yang baik-baik.
Perasaannya terbawa oleh kebaikan budi. Yang baik dapat menghancurkan yang
jelek.
20. Ninggal pakarti dudu
Pradapaning parentah ginugu
Mring pakaryan saregep tetep nastiti
Ngisor dhuwur tyase jumbuh
Tan ana wahon winahon
Banyak yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang kurang baik. Mengikuti
peraturan-peraturan pemerintah. Semuanya rajin mengerjakan tugasnya
masing-masing. Yang dibawah maupun yang diatas hatinya sama saja. Tidak
ada yang saling mencela.
21.Ngratani sapraja agung
Keh sarjana sujana ing kewuh
Nora kewran mring caraka agal alit
Pulih duk jaman runuhun
Tyase teteg teguh tanggon
Keadaan seperti itu terjadi diseluruh negeri. Banyak sekali orang-orang
ahli dalam bidang surat menyurat. Kembali seperti dijaman dahulu kala.
Semuanya berhati baja.
RAMALAN JOYOBOYO
Badan Penerbit Kwa Giok Djing, Kudus,
Sapta Pujangga dan Sejarah Indonesia, hal. 55-68
Rawa dadi pada dadi bera
Iblis jalma manungsa
Iblis menjelis
manungsa sara
Wong salah bungah-bungah
Wong bener thenger-thenger.
Miturut ramalan saka Prabu Noto Aji Joyoboyo, yen wiwit Tanah Jawa diisi
manungsa kaping pindone sahingga besuk tekane Kiamat Kubra (gantining
Jaman), arep ngalami 2100 Taun Surya utawa 2163 taun candra, kang kabagi
dadi telung periode jaman gedhe utawa diwastani TRIKALI.
Periode Jaman gedhe mau siji-sijine kabagi meneh dadi Pitung Jaman Cilik
utawa kang kasebut SAPTA MALOKO.
Trikali kabagi dadi telu yaiku :
1. Kalisura (Jaman Alam Kaluhuran) suwene 700 Taun Surya.
2. Kalijaga (Jaman Panguripan) suwene 700 Taun Surya.
3. Kalisengoro (Jaman Ngalam Tirta) suwene 700 Taun Surya
.Ing kene sing arep dibahas namung Kalisengoro, sawijineng Trikali kang
pungkasan.
Kalisengoro kabagi dadi Sapta Maloko, yaiku :
1. Kalajangga (Jaman Kembang Gadung)
2. Kalasekti (Jaman Kuasa)
3. Kalajaya (Jaman Hunggul)
4. Kalabendu (Jaman sengsara lan Angkaramurka)
5. Kalisuba (Jaman Kamulyan)
6. Kalisumbaga (Jaman Kasohor)
7. Kalisurata (Jaman Alus)

Rahasia Seks Wanita Menurut Kitab Jawa kuno

Rahasia Seks Wanita Menurut Kitab Jawa kuno
0
image
Keindahan wanita dibahas dalam banyak buku atau kitab kuno, baik di China, India, Amerika Latin, Arab maupun nusantara. Seperti primbon Jawa yang telah ditulis pujangga sejak ribuan tahun silam, hingga kini masih bisa dijadikan referensi.
Primbon Jawa sebagai produk kuno masih memiliki penggemar bahkan masih dipakai untuk mengartikan mimpi atau ramalan. Dalam primbon Jawa, pembicaraan watak manusia didasarkan banyak hal, termasuk hari lahir (weton), bentuk fisik, kesukaan atau hobi dan sebagainya.
Gairah seks wanita juga diungkap dalam primbon Jawa, didasarkan pada ciri-ciri fisiknya. Berikut ini beberapa jenis wanita yang dianalisa dari segi fisiknya terkait gairah seks.
Kunci Emas
Ciri fisik : Tubuhnya panjang, tapi kakinya agak pendek tak proposional. Rambutnya tumbuh subur tebal, demikian pula bulu rambutnya baik di tangan atau kadang kaki, dan dibagian ‘V’. Muka dan payudaranya kecil.
Wanita ini termasuk baik dan setia. Meskipun gairah seksualnya tidak menonjol, tapi ia mampu mengimbangi pasangannya. Kalau pria pasangannya memperlakukannya dengan penuh kasih, ia bisa jadi wanita yang menggairahkan. Tapi, ia cenderung tertarik pada wanita sejenis.
Bunga Restu
Ciri fisik :Tubuh besar, kukuh dan cenderung pendek. Muka dan dahinya kecil, mulutnya agak tebal, rambutnya tebal.
Ia termasuk wanita pendiam, demikian juga di tempat tidur. Ia pasif, tak peduli pada pasangannya. Pria pasangannya perlu kesabaran dan memanasinya, karena pada dasarnya ia bisa menjadi pasangan yang menyenangkan. Apalagi, menurut orang Jawa, tipe wanita ini mendatangkan rejeki.
Bintang berkerlip
Ciri fisik :Bertubuh tinggi semampai, berpinggang kecil dengan pinggul besar. Rambutnya lurus sedang, mata sayup-sayup tertutup, hidung besar.
Dari penampilan fisik, wanita ini punya sex appeal yang tinggi. Pria membayangkan ia punya gairah seks yang besar, padahal biasa-biasa saja. Ia bukan penikmat seks, tapi lebih memikirkan urusan rumah tangga dan masa depan anaknya. Ia tipe istri yang baik, setia dan tabah dalam menghadapi persoalan.
Bintang Siaga
Ciri fisik ; Tubuh sedang, tidak tinggi, tidak pendek cenderung kecil. Wajahnya bulat, bermata sayup seperti mengantuk. Mulut lebar, bibir atas lebih kecil dari bibir bawah, telinga melebar keluar.
Bukan hanya gairahnya yang kurang, tapi juga dalam hal olah asmara. Ia terlalu monoton, tidak ada keinginan untuk meningkatkan kemahiran dan belajar bagaimana menikmati seks. Seks baginya seperti kewajiban saja, sehingga pasangannya cenderung kecewa.
Seroja Bergoyang
Ciri fisik :Tubuhnya bagus, meskipun berdada kecil, tapi padat berisi. Beralis tebal, mulut kecil dengan bibir sensual. Pinggulnya tampak seksi berisi.
Secara fisik, ia sangat menarik. Tetapi secara personal, ia bukan wanita yang ceria, cenderung pemuram dan pesimistis. Ia lebih sering cemberut dibanding tertawa dan tersenyum. Pantas kalau ia tampak lebih tua dibanding umurnya. Dalam hal asmara, ia tak semenarik penampilannya. Tapi bagi pria yang egois dan butuh kecepatan, wanita ini bisa saja jadi pasangan yang cocok. Apalagi, Si Seroja bergoyang ini bukan tipe penuntut.
Bunga Indah
Ciri fisik:Tubuh tinggi dengan payudara besar menelungkup ke dalam sehingga tampak indah. Kakinya juga panjang, kalau duduk sering ditumpangkan satu dengan yang lain, dan kalau berjalan lenggang lenggok. Kulitnya putih, berwajah bulat, matanya suka mengerdip indah.
Dari segi fisik, wanita ini tampak ideal. Dan ia memang tipe wanita yang setia, berbakti pada pria pasangannya, bahkan sebagian rela tak peduli pasangannya punya WIL. Memang meskipun fisik dan perilakunya mengundang hasrat besar pria, tapi tidak demikian reaksi seksualnya. Ia tipe wanita dingin, yang sekadarnya saja dalam olah asmara. Ia sudah merasa cukup dan damai kalau dicukupi kebutuhan materialnya.
Pikat Mutiara
Ciri fisik: Tinggi dengan punggung agak membungkuk, tapi berpayudara kecil. Leher panjang, dahi lebar, mulut lebar dan dari kejauhan tampak memikat.
Sebenarnya ia tipe wanita yang cerdas, kata-katanya terpilih dan penuh perhatian. Ia tipe teman yang baik. Ketidaksukaannya berterus terang, membuat olah asmaranya dingin kalau pria pasangannya tak menangkap keinginannya. Wanita mutiara ini lebih suka memberikan bahasa isyarat, sehingga pihak pria harus peka dan tanggap. Ia sebenarnya pencinta yang baik, meskipun gairahnya kecil saja. Tapi buka berarti tak ada kebahagiaan, lho.
Sri Tumurun
Ciri fisik ;Tubuh tinggi, kaki panjang, dada tipis. Mukanya bulat, kaki panjang, dada tipis. Mukanya bulat, mulut lebar, bibir tebal, rambut lemas, bertumit besar.
Meskipun tinggi semampai, sex appeal-nya rendah. Ia lebih menarik menjadi teman karena ia ramah, sopan dan pandai bertutur kata. Sebenarnya, ia tipe istri yang baik karena jenis subur dan membawa berkah. Dalam kultur Jawa, ia adalah titisan Sri, Dewa Padi. Tapi dalam olah asmara, wanita Sri ini cenderung dingin, bahkan frigid. Pria pasangannya sering dibuatnya jengkel dan kesal karena itu. Dan Sri tidak begitu peduli.

Perduli Sejarah

1. Komunitas Historia Indonesia (KHI) – Jakarta
KHI didirikan oleh beberapa mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ)—dulu IKIP Jakarta—dan mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (UI) pada 22 Maret 2003. Nama semula adalah Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-Historia). Komunitas tersebut kini lebih dikenal sebagai Komunitas Historia Indonesia (KHI).
Inspirasi dibentuknya KHI bermula dari buah pemikiran, inisiatif, dan prakarsa Asep Kambali (sang pendiri, mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah UNJ) yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan Sejarah UNJ yang menggelar Lomba Lintas Sejarah bagi siswa SMA se-Jabodetabek.
Dalam kegiatan itu para siswa melakukan napak tilas dan amazing race ke beberapa museum dan situs sejarah yang berhubungan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia selama satu hari pe

kondom UGM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pimpinan UGM menyesalkan aksi pembagian kondomkepada para mahasiswa yang terjadi pada Jumat (29/11/2013) lalu. Mereka menilai pembagian tersebut tidak tepat sasaran.
Sekretaris Eksekutif UGM, Drs Gugup Kismono MBA PhD mengatakan, pihaknya tidak pernah menerima permohonan izin apapun terkait Pekan Kondom Nasional (PKN) yang berlangsung satu hingga tujuh Desember.
Ia menegaskan, kalaupun ada permohonan, pihaknya akan menolak karena tidak tepat sasaran dan tidak sesuai nilai-nilai pendidikan yang diterapkan di UGM.
Aksi pembagian kondom gratis tersebut terjadi di jalan depan gerbang masuk UGM. Aksi tersebut sempat mendapat teguran dari penjaga portal dan Satuan Keamanan Kampus, sebelum akhirnya membubarkan diri.
Gugup mensinyalir ada pihak-pihak tidak bertanggungjawab yang berusaha menunggangi kegiatan Pekan Kondom Nasional. Ia berencana melayangkan surat protes kepada pihak yang melakukan aksi pembagian kondom gratis terebut.
Mengenai kabar adanya bus bertuliskan "Menuju Pekan Kondom Nasional 2013 yang parkir di pintu gerbang UGM pada Minggu (1/12/2013) pagi, Gugup membantahnya. "Berdasarkan laporan petugas portal, hanya ada aksi perayaan Hari AIDS sedunia berupa pembagian bunga," katanya. (*)

Keunggulan Jawa Tengah

Kekayaan Sumber Daya Alam


Provinsi Jawa Tengah memiliki sumber daya alam yang berbagai jenis dengan jumlah yang masih banyak. Sumber daya alam ini berasal dari hasil pertanian, perikanan, peternakan, maupun kehutanannya.
Beberapa komoditi unggulan dari sektor pertanian dan perkebunan di Jawa Tengah adalah :
  • Budidaya Krisan wilayah Sampan 
  • Budidaya Rumput Laut dan Ikan Bandeng Wilayah Sampan 
  • Budidaya Rumput Laut dan Ikan Bandeng Wilayah Sampan  
  • Budidaya Rumput Laut Kabupaten Jepara 
  • Optimalisasi Potensi Rawa Bendungan Kabupaten Cilacap 
  • Pusat peternakan dan Penggemukan Kabupaten Grobogan 
  • Peternakan Kambing Karangcupung Terpadu di Kabupaten Cilacap 
  • Pembangunan Peternakan Kabupaten Banjarnegara Regency 
  • Perkebunan Kayu Albasia dan Pengolahannya Kabupaten Banjarnegara 
  • Peternakan Kambing Etawah di Banjarnegara Regency

Infrastruktur yang Memadai


Pembangunan infrastruktur di Provinsi Jawa Tengah sudah memadai, hal ini dapat dilihat dari potensi infrastruktur posisi Jawa Tengah ada pada urutan keempat setelah DKI Jakarta, Kalimantan Timur, dan Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bahkan terus melakukan percepatan pembangunan Jawa Tengah dengan salah satu fokus utamanya pada pembangunan infrastruktur.

Penyediaan infrastruktur khususnya jalan memang mempunyai korelasi positif terhadap perekonomian Jawa Tengah secara keseluruhan. Pembangunan infrastruktur jalan provinsi dan kabupaten akan menjadi pendorong yang signifikan dalam meningkatkan aktivitas ekonomi dan pendapatan masyarakat.

Industri yang Beragam


Sektor industri merupakan penyumbang perekonomian tertinggi di Jawa Tengah sehingga daerah yang unggul pada sektor ini lebih maju ketimbang daerah lain.

Pengembangan Ekonomi Kreatif


Pengembangan komoditi unggulan UMKM di Provinsi Jawa Tengah juga menjadi daya tarik untuk dikunjungi. Pada dasarnya terbagi ke dalam 3 sektor utama yakni industri, pertanian, dan pariwisata. Pengembangan komoditi unggulan ini umumnya berbasis klaster.

Natural & Historical City


Jawa Tengah juga banyak terdapat obyek wisata yang sangat menarik baik wisata alam maupun wisata budaya.Salah satu dari tujuh keajaiban dunia terletak di Provinsi Jawa Tengah ini yaitu Candi Borobudur. Candi Borobudur terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal.
Tidak hanya pariwisata budaya, di Provinsi Jawa Tengah juga terdapat wisata alam yang sangat menarik seperti Kepulauan Karimunjawa. Kepulauan Karimunjawa terletak pada 05’40’-05’57’ LS dan 110’40’ BT secara geografis terletak di Laut Jawa, arah barat laut dari Jepara. Luas wilayah teritorial Karimunjawa 107.225 ha sebagian besar berupa lautan (100.105 ha) dengan luas daratan 7.120 ha yang terdiri atas gugusan pulau berjumlah 27 pulau besar dan kecil. Selain itu, Provinsi Jawa Tengah juga memiliki Perbukitan Dieng. Dieng terletak di lahan situs purbakala seluas 36 Ha, kawasan ini dikelilingi perbukitan. Sebelah timur Bukit Setinggi dan Sikendeng, sebelah barat bukit Ngrecogede, sebelah selatan bukit pangonan dan sebalah utara bukit punthuksari.

Wisata Batang Jawa Tengah

Lokasi Wisata Kabupaten Batang


 
  Pantai Sigandu
Terletak 2 kilometer sebelah utara Kota Batang memiliki pantai dengan butiran pasir dan panorama yang eksotik, bersih lengkap dengan cafe-cafe yang menyajikan makanan hasil laut yang lezat dan minuman yang segar. 
Para wisatawan dapat berjalan kaki menyusuri pantai, berenang atau menikmati angin laut yang berhembus sepoi-sepoi. Bagi yang ingin menikmati perjalanan bahari, wisatawan dapat menyewa kapal Wisata Sigandu I dan II. 
Pantai Sigandu saat ini telah menyediakan fasilitas sirkuit balap bagi para pecinta Motor Cross.
Pantai Ujung Negoro
Berada di Ujungnegoro Kecamatan Kandeman, jarak menuju lokasi sekitar 20 Km sebelah timur laut Kota Batang. Di panti ini wisatawan akan dimanjakan dengan pemandangan tebing karang di tepi laut yang memiliki daya tarik tersendiri, karena disamping memiliki panorama yang indah juga memiliki kekuatan magis, di bibir pantai terdapat gua Aswotomo yang konon menurut legenda tembus hingga Dataran Tinggi Dieng di Kabupaten Wonosobo.
 
  Curug Sigenting
Lokasi di Selatan Batang
Kebun Teh Pagilaran
Terletak di Desa Bawang Kecamatan Blado, 40 Km arah selatan dari pusat Kota Batang, dengan luas areal 1.131,25 Ha. Selain merupakan lokasi favorit tempat istirahat, dapat juga sebagai tempat untuk penyelenggaraan rapat-rapat, pertemuan, kursus dan pelatihan. Karena tersedia Wisma, Home Stay, Ruang Rapat dan Ruang Pertemuan.
 
  THR Kramat
THR Kramat berada di tepi sungai Kramat dan merupakan tempat dimana pentas kesenian dan kebudayaan sering diadakan. Tempat ini sering digunakan untuk perkemahan pelajar karena memiliki area yang luas dan dilengkapi fasilitas area bermain anak-anak.
Prima Golf
Hamparan Lapangan rumput hijau yang luas dan di sekelilingnya terdapat pohon yang rindang akan menambah pesona indah Lapangan Prima Golf. Tempatnya berada di Pusat Kabupaten Batang arah timur. Para pelatih golf siap membantu para pemula olahraga Golf untuk bermain Golf.
 

 Makam Syeh Maulana Maghribi
Kawasan Wonobodro merupakan kawasan wisata Ziarah makan Syeh Maulana Maghribi. Lokasi ini terletak di Desa Wonobodro Kecamatan Blado, dari Ibukota Kabupaten Batang kurang lebih 30 Km arah ke arah selatan. Pada Bulan Suro tempat makam Syeh Maulana Maghribi banyak dikunjungi oleh para peziarah dari beberapa kota.
Batang Dolphin
Batang Dolphin Center Unit Taman Safari Indonesia di Wisata Pantai Sigandu Batang Jawa Tengah. Binatang yang diatraksikan ada Lumba-lumba, Burung Macaw, Anjing, Palka Reptilia, Aquarium dan Satwa Tunggang. 
Pengunjung bisa menikmati suasana Aquarium air tawar, berenang bersama Lumba-lumba, makan bersama lumba-lumba juga ada pentas anjing pudel.
 

 Arca Ganesha
Arca Ganesha terletak di Desa Siluran Kecamatan Wonotunggal Kabupaten Batang. Arca ini tergolong arca yang lengkap baik dilihat dari ciri-cirinya maupun ukuran arca pada umumnya. 
Dilihat dari seni pahat yang belum halus diperkirakan Arca Ganesha berasal dari abad IX.


sumber:Wisata Batang