MACAM-MACAM
TARIAN di JAWA TENGAH (JATENG)
SEJARAH
TARI DI INDONESIA
A.
ZAMAN PRASEJARAH
Zaman prasejarah adalah zaman sebelum
lahirnya kerajaan di Indonesia. Entuk dan wujud tariannya cenderung menirukan
gerak alam lingkungannya yang bersifat imiatatif. Sebagai contoh menirukan
binatang yang akan diburu, pemujaan dan penyembuhan penyakit
B. ZAMAN INDONESIA HINDU
Pada zaman Indonesia hindu, seni tari mulai digarap dan banyak dipengaruhi oleh
kebudayaan dar India. Beberapa jenis tari pada zaman Indonesia hindu seperi
tari-tarian adat dan keagamaan berhasil disempurnakan menjadi tarian klasik
yang beratistik tinggi. Sebagai contoh wayang wong, wayang topeng.
C. ZAMAN INDONESIA ISLAM
Pada zaman Indonesia islam, seni mengalami keyaan penggarapannya kebanyakan di
keraton yaitu kasutanan dan kesultanan. Kedua kerajaan tersebut mengembangkan
identitasnya yang akhirnya menjadi 2 jenis tari yaitu kasunanan dan kasultanan.
D. ZAMN PENJAJAHAN
Pada zaman penjajahan, tari-tarian mengalami kesuraman sebab berada dalam
suasana peperangan dan penjajahan.
E. ZAMAN SETELAH MERDEKA SAMPAI SEKARANG
Setelah merdeka, peran tari mulai difungskikan untuk keagamaan ataupun sebagai
hiburan dan muncul banyak kreasi-kreasi baru ataupun inovasi terhadap seni tari
klasik.
Di
dalam seni tari yang ada di Jawa Tengah terdapat 3 Jeni tari yaitu :
1. Tari Klasik
2. Tari Tradisional
3. Tari Kreasi Baru
1.
Tarian Klasik Jawa Tengah
a) Tari Bedhaya
Tarian ini bertemakan percintaan.
Tari Bedhaya mengalami masa kejayaan pada abad ke 18 pada masa kekuasaan PB II,
PB III, PB IV, dan PB VIII Artinya pada masa-masa itulah banyak diciptakan
tarian Bedhaya (G.R. Ay. Koes Indriyah dalam David t.t.: 59-60). Dari sekian
banyak gendhing Bedhaya hanya tinggal Gendhing yang masih dapat diketahui
tarian diantaranya Bedhoyo Durudasih, Bedhaya Pangkur, Bedhaya Tejanata.
Bedhaya Endhol-endhol, Bedhaya Sukaharja, Bedhaya Kaduk Manis, Bedhaya Sinom,
Bedhayo Kabor, Bedhaya Gambir Sawit dan Bedhaya Ketawang.
Banyak
tari Bedhaya yang hilang atau tidak tergali, disebabkan adanya larangan dari
pihak kraton Surakarta bahwa tari dan karawitan milik kraton tidak
diperbolehkan untuk dipelajari secara privat atau ditulis (didiskripsikan).
Bila menginginkan belajar harus di dalam kraton, di samping itu ada peraturan
yang membatasi bahwa yang boleh belajar tari hanyalah wanita yang belum
menikah. Dengan demikian dapat dimaklumi jika jarang penari dapat mendalami
tarian dengan sungguh-sungguh (G.R. Ay. Moertiyah, Wawancara: September 1997).
Diantara
11 bentuk tari Bedhaya yang dianggap paling tua adalah Bedhaya Ketawang. Tari
Bedhaya Ketawang sampai sekarang disakralkan bagi pihak kraton Surakarta,
disajikan hanya untuk rangkaian upacara Jumenengan Tinggalan Dalem di kraton.
Bagi kraton Surakarta tari Bedhaya Ketawang merupakan salah satu pusaka,
sehingga jika disajikan sebagai pertunjukan diberlakukan ketentuan-ketentuan
yang harus dipenuhi. Namun demikian tidak berarti semua tari Bedhaya bersifat
sakral dan tertutup bagi masyarakat umum, maka diciptakanlah tari-tari Bedhaya
lain yang sifatnya hanya untuk sesuka atau untuk kepuasan batin, untuk hiburan raja,
yang mana cakepan sindenannya kebanyakan menggambarkan kehidupan raja semata
(G.R. Ay. Moertiyah, Wamancara: September 1997). Menurut Gusti Puger bahwa tari
di samping sebagai hiburan juga sebagai ungkapan rasa syukur menyambut
kelahiran seorang anak dan juga bisa digunakan untuk penyambutan tamu.
Keberadaan tari-tari di lingkungan kraton pengelolaannya dilakukan oleh
beberapa kelompok abdi dalem putri yang dibawahi oleh Pengageng Parentah
Keputren, diantaranya adalah kelompok abdi dalem Bedhaya. Kelompok abdi dalem
Bedhaya memiliki tugas pokok sebagai penari Bedhaya, di sampik menari juga
membantu segala pekerjaan yang ada di keputren termasuk menjaga keamanan, untuk
itu kelompok abdi dalem Bedhaya juga dilatih beta diri.
Sekitar
tahun 1970-an, pada masa PB XII, Kanjeng Susuhunan Pakubuwana mengijinkan tari
Bedhaya dipelajari oleh masyarakat di luar kraton, yang memanfaatkan kesempatan
pertama kali Ketika itu adalah ASKI/PKJT sebagai salah satu lembaga pendidikan
dan lembaga budaya yang berkedudukan di Sasana Mulyo Baluwarti. Mulai saat
itulah penari niyaga dan pengeprak kraton diperbolehkan berbaur latihan dengan
penari niyaga dan pengeprak dari luar kraton. Akhirnya hingga sekarang tari
Bedhaya dapat dipelajari dan disajikan di luar tembok kraton. (G.R. Ay.
Moertiyah, Wawancara: Oktober 1997).
Gerak Tari : sembilan orang penari dengan menggunakan tata busana dan rias
wajah serta tata rambut yang sama. Masing-masing penari membawakan peran dengan
nama yang berbeda-beda, yaitu: Batak, Gulu, Dhadha, Endhel Weton, Endhel Ajeg,
Apit Meneng, Apit Wingking, Apit Ngajeng, Bancit. Ki Hajar Dewantara menyatakan
bahwa yang dinamakan Bedhaya yaitu rakitan penari sembilan orang yang diatur
secara rytmische figures dan standen, masing-masing penari memiliki rol sendiri-sendiri,
yaitu endel, gulu, dada, batak, buntil, dan empat orang pengapit. Tari Bedhaya
memiliki rhytme berbeda sekali yaitu lebih halus dan tenteram dalam gerakannya.
Jenis Instrumen : Kemanak, Kethuk, Kenong, Kendhang, gong
(gemelan laras pelog, tanpa keprak).
b)
Tari Gambyong
Tari Gambyong merupakan suatu tarian yang disajikan untuk menyambut tamu atau
mengawali suatu resepsi perkawinan. Ciri khas, selalu dibuka dengan gendhing
Pangkur. Tariannya terlihat indah dan elok apabila si penari mampu menyelaraskan
gerak dengan irama kendang dan gending.
Instrumen
: gender, kendang, kenong, kempul, dan gong
Perkembangan
: Awal mula istilah Gambying tampaknya berawal dari nama seorang penari
taledhek.
Penari yang bernama Gambyong ini hidup pada zaman Sunan Paku Buwana IV di
Surakarta.
Penari ini juga dsiebutkan dalam buku “Cariyos Lelampahanipun” karya Suwargi
R.Ng. Ronggowarsito (1803-1873) yang mengungkapkan adanya penari ledhek yang
bernama Gambyong yang memiliki kemnahiran dalam menari dan kemerduan dalam suara
sehingga menjadi pujaan kaum muda pada zaman itu.
Gerak
tari
Koreografi tari Gambyong sebagian besar berpusat pada penggunaan gerak kaki,
tubuh, lengan
dan kepala. Gerak kepala dan tangan yang halus dan terkendali merupakan
spesifikasi
dalam tari Gambyong. Arah pandangan mata yang bergerak mengikuti arah gerak
tangan dengan memandang jari-jari tangan ,menjadikan faktor dominan gerak-gerak
tangan dalam ekspresi tari Gambyong. Gerak kaki pada saat sikap beridiri dan
berjalan mempunyai korelasi yang harmonis.
Sebagai contoh , pada gerak srisig (berdiri dengan jinjit dan langkah-langkah
kecil),
nacah miring (kaki kiri bergerak ke samping, bergantian atau disusul kaki kanan
diletakkan di depan kaki kiri, kengser (gerak kaki ke samping dengan cara
bergeser/posisi telapak
kaki tetap merapat ke lanati). Gerak kaki yang spsifik pada tari Gambyong
adalah gerak embat
atau entrag, yaitu posisi lutut yang membuka karena mendhak bergerak ke bawah
dan ke atas.
Penggarapan pola lantai pada tari Gambyong dilakukan pada peralihan rangklaian
gerak,
yaitu pada saat transisi rangkaian gerak satu dengan rangkaian gerak
berikutnya.
Sedangkan perpindahan posisi penari biasanya dilakukan pada gerak penghubung,
yaitu srisig, singket ukel karana, kengser, dan nacah miring. Selain itu
dilakukan pada rangkaian gerak berjalan
(sekaran mlaku) ataupun gerak di tempat (sekaran mandheg).
c)
Tari Bondan
Tari Bondan adalah tari yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. seorang anak
wanita dengan menggendong boneka mainan dan payung terbuka, menari dengan
hati-hati di atas kendi yang diinjak dan tidak boleh pecah. Tarian ini
melambangkan seorang ibu yang menjaga anak-anaknya dengan hati-hati.
Tari ini dibagi menjadi 3, yaitu Bondan Cindogo, Bondan Mardisiwi, dan Bondan
Pegunungan/ Tani. Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi melambangkan seorang ibu
yang menjaga anaknya yang baru lahir dengan hati-hati dan dengan rasa kasih
sayang . Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya
meninggal dunia. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak, serta perlengakapan
tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo.
Di tahun 1960an, Tari Bondan adalah tari unggulan atau tari wajib bagi
perempuan-perempuan cantik untuk menunjukkan siapa jati dirinya. Hampir semua
penari Tari Bondan adalah kembang kampung. Tari Bondan ini juga paling sulit
ditarikan karena sambil menggendong boneka, si penari harus siap-siap naik di
atas kendi yang berputar sambil memutar-mutarkan payung kertasnya. Penari Tari
Bondan biasanya menampilkan Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi memakai kain
Wiron, memakai Jamang, baju kutang, memakai sanggul, menggendong boneka,
memanggul payung, dan membawa kendhi. Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan
diteruskan Ladrang Ginonjing. Sedangkan Bondan Pegunungan, melukiskan tingkah
laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang, sawah, tegal
pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi
gendhing.
Ciri
tarian :yaitu mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok,
memakai caping dan membawa alat pertanian. Bentuk tariannya pertama melukiskan
kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis
pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Selanjutnya
menari seperti gerak tari Bondan Cindogo atau Mardisiwi.
d)
Tari Serimpi :
Tarian Serimpi merupakan tarian bernuansa mistik yang berasal dari Yogyakarta.
Tarian ini diiringi oleh gamelan Jawa.
Tarian ini dimainkan oleh empat orang penari wanita. Gerakan tangan yang lambat
dan gemulai, merupakan ciri khas dari tarian Serimpi. Tarian srimpi sangopati
karya Pakubuwono IX ini, sebenarnya merupakan tarian karya Pakubuwono IV yang
memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820 dengan nama Srimpi
sangopati kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah
sebutan bagi calon pengganti raja. Tarian ini melambangkan bekal untuk kematian
(dari arti Sangopati) diperuntukan kepada Belanda.
Tarian
yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air, api, angin dan
bumi/tanah, yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat
penjuru mata angin. Sedang nama peranannya Batak, Gulu, Dhada dan Buncit.
Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. Seperti Bedhaya, tari
Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. Juga karena
lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi.
Contoh Srimpi hasil garapan baru :
~Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit
~Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit
e)
Tari Beksan Wireng
Beksan Wireng : berasal dari kata Wira (perwira) dan ‘Aeng’ yaitu prajurit yang
unggul, yang ‘aeng’, yang ‘linuwih’. Tari ini diciptakan pada jaman
pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam
olah keprajuritan dengan menggunakan alat senjata perang. Sehingga tari ini
menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang dengan menggunakan alat perang.
Ciri-ciri tarian ini :
– Ditarikan oleh dua orang putra/i
– Bentuk tariannya sama
– Tidak mengambil suatu cerita
– Tidak menggunakan ontowacono (dialog)
– Bentuk pakaiannya sama
– Perangnya tanding, artinya tidak menggunakan gending
sampak/srepeg, hanya iramanya/temponya kendho/kenceng
– Gending satu atau dua, artinya gendhing ladrang kemudian
diteruskan gendhing ketawang
– Tidak ada yang kalah/menang atau mati.
2.
Tari Tradisional Jawa Tengah
a) Kuda Lumping :
Tema : berisi unsur hiburan, religi, unsur ritual.
Kuda Lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda
tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan
sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang
diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Konon,
tari Kuda Lumping merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata
terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda.
Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari Kuda Lumping menggambarkan kisah
perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah
Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan
perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram,
untuk menghadapi pasukan Belanda.
Terlepas
dari asal usul dan nilai historisnya, tari Kuda Lumping merefleksikan semangat
heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini
terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan
anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Seringkali dalam pertunjukan tari Kuda Lumping, juga menampilkan atraksi yang
mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah
kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan
kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural
yang pada jaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan
aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.Sajak-sajak
yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan himbauan agar
manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang
Pencipta.
Gerak tari : Dalam setiap pagelarannya, tari Kuda Lumping ini menghadirkan 4
fragmen tarian yaitu 2 kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon
Putri.
Pada
fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4
sampai 6 orang penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan
menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat
mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus. Para penonton pun tidak luput
dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran
menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak
sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan
para penari lainnya.
Untuk
memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan, dalam setiap
pagelaran selalu hadir para datuk, yaitu orang yang memiliki kemampuan supranatural
yang kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam yang dikenakannya.
Para datuk ini akan memberikan penawar hingga kesadaran para penari maupun
penonton kembali pulih.
Pada
fragmen selanjutnya, penari pria dan wanita bergabung membawakan tari
senterewe.
Pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang
wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh
rangkaian atraksi tari Kuda Lumping.
Jenis Instrument : Kendang, Kenong, Gong, dan Slompret.
b)
Jathilan :
Jatilan adalah salah satu jenis tarian rakyat yang bila ditelusur latar
belakang sejarahnya termasuk tarian yang paling tua di Jawa.
Tari yang selalu dilengkapi dengan property berupa kuda kepang ini lazimnya
dipertunjukkan sampai klimaksnya, yaitu keadaan tidak sadar diri pada salah
seorang penarinya.
Penari jatilan dahulu hanya berjumlah 2 orang tetapi sekarang bisa dilakukan
oleh lebih banyak orang lagi dalam formasi yang berpasangan. Tarian jatilan
menggambarkan peperangan dengan naik kuda dan bersenjatakan pedang.
Selain penari berkuda, ada juga penari yang tidak berkuda tetapi memakai
topeng.
Di antaranya adalah penthul, bejer, cepet, gendruwo dan barongan.
Reog dan jatilan ini fungsinya hanya sebagai tontonan/hiburan, ini agak berbeda
dengan fungsi reog pada zaman dahulu yang selain untuk tontonan juga berfungsi
sebagai pengawal yang memeriahkan iring-iringan temanten atau anak yang
dikhitan serta untuk kepentingan pelepas nadzar atau midhang kepasar.
Anggota penari : Terdapat sekitar 35 orang dan terdiri dari laki-laki dengan
perincian: penari 20 orang; penabuh instrumen 10 orang; 4 orang penjaga
keamanan/ pembantu umum untuk kalau ada pemain yang mengalami trance; dan 1
orang sebagai koordinator pertunjukan (pawang).
Para
penari menggunakan property pedang yang dibuat dari bambu dan menunggang kuda
lumping.
Di antara para penari ada yang memakai topeng hitam dan putih, bernama Bancak
(Penthul) untuk yang putih, dan Doyok (Bejer/Tembem) untuk yang hitam.
Kedua tokoh ini berfungsi sebagai pelawak, penari dan penyanyi untuk menghibur
prajurit berkuda yang sedang beristirahat sesudah perang-perangan.
Ketika menari para pemain mengenakan kostum dan tata rias muka yang realistis.
Ada juga group yang kostumnya non-realistis terutama pada tutup kepala; karena
group ini memakai irah-irahan wayang orang.
Pada kostum yang realistis, tutup kepala berupa blangkon atau iket (udeng) dan
para pemain berkacamata gelap, umumnya hitam.
Selama itu ada juga baju/kaos rompi, celana panji, kain, dan stagen dengan
timangnya.
Puncak tarian Jatilan ini kadang-kadang diikuti dengan keadaan mencapai trance
(tak sadarkan diri tetapi tetap menari) pada para pemainnya.
Sebelum pertunjukan Jatilan dimulai biasanya ada pra-tontonan berupa tetabuhan
dan kadang-kadang berupa dagelan/ lawakan.
Kini keduanya sudah jarang sekali ditemui.
Pertunjukan ini bisa dilakukan pada malam hari, tetapi umumnya diadakan pada
siang hari.
Pertunjukan akan berlangsung selama satu hari apabila pertunjukannya memerlukan
waktu 2 jam per babaknya, dan pertunjukan ini terdiri dari 3 babak.
Bagi group yang untuk 1 babak memerlukan waktu 3 jam maka dalam sehari dia
hanya akan main 2 babak. Pada umumnya permainan ini berlangsung dari jam 09.00
sampai jam 17.00, termasuk waktu istirahat. Jika pertunjukan berlangsung pada
malam hari, maka pertunjukan akan dimulai pada jam 20.00 dan berakhir pada jam
01.00 dengan menggunakan lampu petromak.
Tempat pertunjukan berbentuk arena dengan lantai berupa lingkaran dan lurus.
Instrumen : kendang, bendhe, gong, gender, saron, kepyak
c)
Kethek Ogleng :
Kethek Ogleng merupakan salah satu bentuk kesenian rakyat yang masih berkembang
dengan bentuk yang beragam di Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. kisahnya
menceritakan seekor kera jelmaan raden gunung sari dalam cerita panji dalam
upaya mencari dewi sekartaji yang menghilang dari istana.untuk mengelabuhi
penduduk agar bebas keluar masuk desa dan hutan,maka raden gunung sari menjelma
jadi seekor kera putih yang lincah dan lucu.
Tari Kethek Ogleng ini dalam mengekspresikannya menggambarkan gerak-gerik
sekelompok kera putih.dalam tarian ini terlintas ungkapan
kelincahan,kebersamaan,semangat,kelucuan dan atraktif.
Iringannya menggunakan instrumen gamelan jawa,alat perkusi tradisional dan
penggaran olah vokal yang tetap menghadirkan rasa dan nuansa kerakyatan.
Sekilas
Cerita asal usul Kethek Ogleng :
Kethek Ogleng adalah sebuah tari yang gerakannya menirukan tingkah laku kethek
(kera). Tarian ini ditarikan oleh masyarakat Desa Tokawi Kecamatan Nawangan
bertahun-tahun lamanya. Biasanya tarian ini dipentaskan pada waktu hajatan
masyarakat setempat. Tarian Kethek Ogleng ini berasal dari sebuah cerita
Kerajaan Jenggala dan Kediri.
Raja Jenggala mempunyai seorang putri bernama Dewi Sekartaji dan Kerajaan
Kediri mempunyai seorang putra bernama Raden Panji Asmorobangun. Kedua insan
ini saling mencintai dan bercita-cita ingin membangun kehidupan yang harmonis
dalam sebuah keluarga. Hal ini membuat keduanya tidak dapat dipisahkan.
Namun, raja Jenggala, ayahanda Dewi Sekartaji, mempunyai keinginan untuk
menikahkan Dewi Sekartaji dengan pria pilihannya. Ketika Dewi Sekartaji tahu
akan dinikahkan dengan laki-laki pilihan ayahandanya-yang tentunya tidak dia
cintai, dia diam-diam meninggalkan Kerajaan Jenggala tanpa sepengetahuan sang
ayahanda dan seluruh orang di kerajaan. Malam hari, sang putri berangkat
bersama beberapa dayang menuju ke arah barat.
Di Kerajaan Kediri, Panji Asmorobangun yang mendengar berita menghilangnya Dewi
Sekartaji memutuskan untuk nekad mencari Dewi Sekartaji, sang kekasih. Di
perjalanan, Panji Asmorobangun singgah di rumah seorang pendeta. Di sana Panji
diberi wejangan agar pergi ke arah barat dan dia harus menyamar menjadi kera.
Sedangkan di lain pihak, Dewi Sekartaji ternyata telah menyamar menjadi Endang
Rara Tompe.
Setelah Endang Rara Tompe naik turun gunung, akhirnya rombongan Endang Rara
Tompe, yang sebenarnya Dewi Sekartaji, beristirahat di suatu daerah dan
memutuskan untuk menetap di sana. Ternyata kethek penjelmaan Panji Amorobangun
juga tinggal tidak jauh dari pondok Endang Rara Tompe. Maka, bersahabatlah
mereka berdua. Meski tinggal berdekatan dan bersahabat, Endang Rara Tompe belum
mengetahui jika kethek yang menjadi sahabatnya adalah Panji Asmorobangun, sang
kekasih, begitu juga dengan Panji Asmorobangun, dia tidak mengetahui jika
Endang Rara Tompe adalah Dewi Sekartaji yang selama ini dia cari.
Setelah persahabatan antara Endang Rara Tompe dan kethek terjalin begitu
kuatnya, mereka berdua membuka rahasia masing-masing. Endang Rara Tompe merubah
bentuknya menjadi Dewi Sekartaji, begitu juga dengan kethek sahabat Endang Rara
Tompe. Kethek tersebut merubah dirinya menjadi Raden Panji Asmorobangun.
Perjumpaan antara Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun diliputi perasaan
haru sekaligus bahagia. Akhirnya, Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun
sepakat kembali ke kerajaan Jenggala untuk melangsungkan pernikahan.
d)
Sintren :
Sintren adalah kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di
Pekalongan.
Sejarah : Kesenian Sintren berasal dari kisah Sulandono sebagai putra Ki
Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu
kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara
tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi
bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di
antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.
Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke
tubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil
oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara
Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren
sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa
hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan).
Bentuk pertunjukan : Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu
oleh pawang dengan diiringi gending 6 orang. Dalam perkembangannya tari sintren
sebagai hiburan budaya, kemudian dilengkapi dengan penari pendamping dan bodor
(lawak).
Dalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam
permainan Sintren, si pawang (dalang) sering mengundang Roh Dewi Lanjar untuk
masuk ke dalam permainan Sintren. Bila, roh Dewi Lanjar berhasil diundang, maka
penari Sintren akan terlihat lebih cantik dan membawakan tarian lebih lincah
dan mempesona.
Instrumen : gamelan khas laras slendro
e)
Tari Jlantur :
Sebuah tarian yang dimainkan oleh 40 orang pria dengan memakai ikat kepala gaya
turki. Tariannya dilakukan dengan menaiki kuda kepang dengan senjata tombak dan
pedang. Tarian ini menggambarkan prajurit yang akan berangkat ke medan perang,
dahulu merupakan tarian penyalur semangat kepahlawanan dari keturunan prajurit
Diponegoro.
3.
Tari Kreasi Baru Jawa Tengah
a) Tari Prawiroguno :
Tari ini menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih diri dengan
perlengkapan senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng
sebagai alat untuk melindungi diri.
b)
Tari Ronggeng :
Asal : Jawa , Fungsi : Sebagai hiburan , Tema : Erotis , Pencipta : Endang
Caturwati
Tarian
ronggeng memang berbeda dengan tarian lainnya. Gerak tarian ronggeng lebih
ekspresif bahkan mengarah ke eksotis.
Goyang, geol, gitek adalah ciri khas tarian ronggeng. Dengan ciri khas inilah
seni ronggeng menjadi identik sebagai seni yang mampu membuat kaum lelaki
bangkit libidonya, sehingga akhirnya citra seni ronggeng menjadi sangat jelek.
Tari ronggeng sebenarnya merupakan bagian dari upacara untuk meminta kesuburan
tanah. Upacara ini dilakukan supaya hasil pertanian warga melimpah ruah. Karena
terkait dengan kesuburan inilah, gerakan dalam tarian dengan penari laki-laki
yang disebut bajidor ini, mirip gerakan orang yang sedang bercinta.
Pergeseran mulai terjadi di zaman kolonialis. Sejak era kolonial Portugis
hingga Belanda dan Jepang, ronggeng dijadikan sebagai hiburan di daerah
perkebunan. Tak hanya bagi pekerja perkebunan, Ronggeng merupakan hiburan bagi
kaum penjajah saat itu. Walhasil, sejak saat itulah ronggeng tak lagi sekadar
sebagai ritual adat. Sebagai hiburan, seni, ronggeng akhirnya lebih banyak
bermuatan unsur erotis, mulai dari cara berpakaian penari, gaya tarinya, bahkan
hingga perilaku di atas panggung yang lebih memancing birahi kaum adam.
c)
Tari Kumbang :
Tari ini menggambarkan sepasang kumbang (jantan dan betina) sedang mengisap
sari bunga di taman, berterbangan ke sana ke mari sambil berkejar-kejaran.
Kumbang jantan dan betina memadu kasih dengan suasana romantis di taman bunga.
Penonton yang menyaksikan akan diajak berimajinasi dalam suasana romantis,
bahwa antara laki dan perempuan.
d)
Tari Wira Pertiwi :
Tarian ini merupakan kreasi baru ciptaan Bagong Kussudiardjo yang menggambarkan
sosok kepahlawanan seorang prajurit putri Jawa. Ketegasan, ketangkasan dan
ketangguhan seorang prajurit tergambar dalam gerak yang dinamis.
e)
Tari Beksan Gatotkaca vs Suteja :
v Asal : Yogyakarta.
v Tema : Peperangan.
v Latar belakang : Beksan Gatotkaca vs Suteja merupakan bagian dari sebuah
sajian wayang wong gaya Yogyakarta dalam kisah Rebutan Kikis Tunggrana.
v Isi : Dalam tarian ini, dikisahkan perjuangan dari Gatotkaca maupun Suteja
dalam mempertahankan batas wilayah kekuasaannya yang berupa hutan, bernama
Hutan Tunggrana. Akhirnya jalan penyelesaian yang terpaksa dipilih adalah
melakukan perang tanding. Keduanya dikisahkan melakukan perang tanding dengan
naik kendaraan berupa burung garuda.
v Fungsi : Sebagai hiburan.
v Keunikan
Ø Gerak : Gerak-gerak penari membentuk sudut (tarian putra gagah). Perang yang
terjadi berlangsung sengit sehingga lebih menarik perhatian orang yang
melihatnya.
Ø Kostum : Pakainya tampil sederhana dengan memperlihat-kan kekekaran diri
penari.
Ø Iringan : Iringannnya cepat dan tegas sehingga menimbulkan kesan gagah
penarinya.